AHLUSSUNNAH WALJAMAAH KAUM TUA DI DUNIA

AHLUSSUNNAH WALJAMAAH KAUM TUA DI DUNIA
BAGAN BATU

Minggu, 22 Juli 2012

Ahlussunnah wal Jamaah Tertua di Muka Bumi Allah ini (Salaf/Khalaf)

SYEIKH DR. SALIM ‘ALWAN AL HUSAINI

Ketua Umum Darul Fatwa Australia (Mufti Australia/Ketua Majelis Ulama Australia)

Pada acara Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh Aswaja NU Center PWNU JAWA TIMUR, Sabtu, 30 Juni 2012

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاةوالسلام على سيدنا محمد وعلىءاله وصحبه الطيبين الطاهرين وبعد قال الله تعالى: وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِمَا تَبَيَّنَ لَه الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَسَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّه مَاتَوَلَّى وَنُصْلِه جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيرا (سورة النساء:

115) Maknanya: "Barangsiapa menentang Rasulullah setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti jalan selain orang-orang mukmin, Kami biarkan dia menempuh jalan kesatan yang dia tempuh itu, dan Kami akan menjadikannya penyulut jahannam dan ini adalah sejelek-jelek tempat kembali"(QS. An-Nisa': 115). Para hadirin sekalian! Ketahuilah –semoga Allah merahmati kalian dengan taufiq-Nya- bahwa Ahlussunnah wal Jama'ah adalah kelompok mayoritas ummat Muhammad, mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam prinsip-prinsip keyakinan (I'tiqad), yaitu keyakinan pada enam perkara yang tersebut dalam hadits Jibril bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقدر خيره وشره

Maknanya: "Iman adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, qadar (ketentuan Allah), dan apa-apa yang ditentukan oleh Allah (al maqdur) yang baik dan yang buruk". Generasi paling mulia dari seluruh kaum Ahlussunnah wal Jama'ah adalah mereka yang hidup pada tiga abad pertama, sebagaimana tersebut dalam hadits nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:

خير القرون

قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

Maknanya: "Sebaik-baik ummatku adalah mereka yang hidup seabad denganku, kemudian abad berikutnya, kemudian abad berikutnya". Makna "qarn"yang tersebut dalam hadits tersebut adalah seratus tahun, ini sesuai dengan pemaknaan yang dipilih oleh al Hafizh Abu al Qasim Ibnu Asakir dan para ulama lainnya, dan mereka –kaum Ahlussunnah wal Jama'ah- juga yang dimaksudkan dalam hadits riwayat at Tirmidzi dan lainnya:

 أصيكم بأصحابي ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم وفيه قوله عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد فمن أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة

Maknanya:"Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka". dalam terusan hadits tersebut terdapat: "Tetap berpegangteguhlah kalian pada mayoritas umat, dan jangan terpecah belah, karena setan itu bersama satu orang, dan dia akan lebih jauh dari dua orang, barangsiapa menginginkan tempat yang lapang di surga maka hendaklah ia berpegang teguh dengan ajaran al Jama'ah". Hadits tersebut dinilai shahih oleh al Hakim dan at-Tirmidzi menilai hadits ini adalah hadits hasan shahih. Mereka –kaum Ahlussunnah wal Jama'ah- juga yang dimaksudkan dengan al Jama'ah yang tersebut dalam hadits riwayat Abu Dawud bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وإن هذه الملة ستفترق إلى ثلاث وسبعين ثنتان وسبعون في النار وواحدة في الجنة وهي الجماعة

Maknanya:"Umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua di antaranya akan masuk neraka, dan hanya satu yang masuk surga, yaitu al Jama'ah". Yang dimaksud dengan al Jama'ah di sini adalah kelompok mayoritas ummat, bukan shalat berjama'ah, sebagaimana ditegaskan dalam hadits Zaid ibn Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

ثلاث لا يغل عليهن قلب المؤمن إخلاص العمل والنصيحة لولي الأمر ولزوم الجماعة فإن دعوتهم تكون من وراءهم

           Al Hafizh Ibnu Hajar al 'Asqalani menilai hadits ini adalah hadits hasan. Ahlussunnah wal Jama'ah adalah mayoritas ummat dan kelompok yang selamat. Semenjak tahun 260 Hijriyyah telah menyebar bid'ah dalam aqidah dari golongan Mu'tazilah,Musyabbihah dan lain-lain, akan tetapi Allah ta'ala menjadikan dua imam besar Abu al Hasan al Asy'ari (w. 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (w. 333) –semoga Allah meridlai keduanya-, mereka berdua berjuang dengan menjelaskan aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang merupakan aqidah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan menetapkan dalil-dalil naqli dan aqli serta bantahan terhadap syubhat-syubhat golongan Mu'tazilah, Musyabbihah dan lainnya, sehingga akhirnya Ahlussunnah dinisbatkan kepada mereka berdua, dan dikatakan Ahlussunnah wal Jama'ah adalah Asy'ariyyun (pengikutImam Asy'ari) dan Maturidiyyun (pengikut Imam Maturidi). al 'Izz ibn Abdissalam menyebutkan bahwa aqidah imam al Asy'ari telah disepakati oleh para penganut madzhab Syafi'i, Maliki, Hanafi, dan pemuka-pemuka madzhab Hanbali, dan pernyataan beliau tersebut disetujui oleh tokoh ulama madzhab Maliki yang hidup di masanya, yaitu Abu 'Amr ibn al Hajib, dan tokoh Madzhab Hanafi Jamaluddin al Hushairi, dan juga disepakati oleh as-Subki .
Tajuddin as-Subki berkata: "Dan mereka penganut madzhab Hanafi, Syafi'i, Maliki, dan pemuka-pemuka madzhab Hanbali semuanya adalah satu dalam aqidah, mereka semua mengikuti ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah, tunduk beragama kepada Allah dengan mengikuti madzhab syaikhussunnah Abu al Hasan al Asy'ari –semoga Allah merahmatinya- lalu beliau berkata juga: Secara garis besar aqidah yang diajarkan oleh Imam al Asy'ari adalah ajaran-ajaran aqidah yang dimuat oleh kitab aqidah Imam Abu Ja'far at-Thahawi (al Aqidah ath-Thahawiyyah) yang diterima oleh para ulama berbagai madzhab dan diridlai sebagai aqidah yang benar". Al hafizh Murtadla az-Zabidi dalam Syarh Ihya' Ulum ad-Din berkata : "Jika disebutkan Ahlussunnah wal Jama'ah maka yang dimaksud adalah Asy'ariyyah dan Maturidiyyah". al Faqih al Hanafi Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya berkata : Ahlussunnah wal Jama'ah adalah kaum asy'ariyyah dan maturidiyyah". Abu Bakar ibn Qadli Syuhbah dalam kitab Thabaqat-nya : "Syeikh Abu al Hasan al Asy'ari al Bishri Imam para mutakallimin, pembela ajaran sayyidil mursalin, dan penegak agama". Syeikh Abu Ishaq as-Syirazi –semoga Allah merahmatinya- menulis: "al Asy'ariyyah adalah Ahlussunnah wal jama'ah itu sendiri dan penegak syari'at, mereka bangkit untuk membantah para penyebar bid'ah seperti kelompok Qadariyyah dan lain-lain, maka siapapun yang mencela mereka, berarti telah mencela ahlussunnah, dan jika diajukan perkara dia itu kepada pemimpin yang mengurus perkara umat Islam, maka wajib untuk diberi pelajaran dengan hukuman yang membuat setiap orang jera". Syeikh Abu BakrMuhammad ibn Ahmad as-Syasyi murid Syeikh Abu Ishaq menyetujui dan menandatangani pernyataan gurunya ini. Inilah agama Allah yang dianut oleh generasi as-Salaf as-Shalihdan ajaran itu diwarisi dari para generasi salaf oleh generasi al khalaf as-shalih, dan Mazhab Asy'ari dan Maturidi dalam aqidah adalah satu. Madzhab yang benar yang dianut oleh as-Salaf as-Shalihadalah madzhab yang dianut oleh Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, pengikutnya berjumlah ratusan juta ummat Islam, lalu bagaimana mungkin mereka yang mayoritas itu dikatakan sesat, dan sebaliknya bagaimana bisa kelompok minoritas yang hanya berjumlah sekitar tiga jutaan dianggap benar, yang benar adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa mayoritas ummatnya tidak akan berada dalam kesesatan secara bersama-sama, dan ini adalah salah satu keistimewaan bagi ummat Nabi Muhammad ini, hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah menunjukkan akan hal ini, yaitu sabda beliau:

إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة

Maknanya:"Allah tidak menjadikan umat ini bersepakat semuanya dalam kesesatan". Dan dalam riwayat Ibnu Majah dengan tambahan:

فإذا رأيتم اختلافا فعليكم بالسواد الأعظم

Maknanya: "Kalau kalian melihat adanya perselisihan, maka berpegang teguhlah pada ajaran mayoritas umat". Hadits mauquf Abu Mas'ud al Badri juga menguatkan kebenaran hal ini, yaitu perkataan beliau:

وعليكم
بالجماعة فإن الله لا يجمع هذه الأمة على ضلالة

Maknanya:"Berpegang teguhlah kalian pada ajaran al Jama'ah, karena Allah tidak menjadikan umat ini bersepakat semuanya dalam kesesatan". Al hafizh Ibnu Hajar al Asqalani menilai hadits ini dan mengatakan: "Sanadnya hasan" juga hadits mauquf Abdullah ibn Mas'ud yang juga shahih nisbatnya kepada beliau, yaitu perkataan beliau:

ما رءاه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رءاه المسلمون قبيحا فهو عند الله قبيح

Maknanya:"Apa yang dilihat oleh orang-orang Islam sebagai kebaikan, maka itulah sejatinya kebaikan yang dianjurkan oleh Allah, dan apa yang dilihat oleh mereka sebagai keburukan, maka itulah sebenarnya keburukan yang dilarang oleh Allah". alHafizh Ibnu Hajar berkata: "Ini adalah hadits mauquf yang hasan". Maka jelaslah bahwa aqidah yang benar yang dianut oleh generasi as-Salaf as-Shalihadalah ajaran yang dianut oleh Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, jumlah mereka mencapai ratusan juta umat Islam, mereka adalah kelompok mayoritas dalam ummat ini, penganut Madzhab Syafi'i, Maliki, Hanafi dan pemuka-pemuka Mazhab Hanbali yang lurus, dan Rasulullah telah mengabarkan bahkan mayoritas ummatnya tidak akan tersesat, maka sungguh beruntung orang-orang yang berpegang teguh dengan ajaran ini. Maka wajib hukumnya untuk bersungguh-sungguh dalam mempelajari aqidah al Firqah anNajiyyahini, yang mana mereka itu adalah kelompok mayoritas ummat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, karena ilmu aqidah adalah ilmu yang paling utama, ilmu yang menjalaskan tentang pondamen agama. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya: "Amalan apakah yang paling utama", beliau menjawab: beriman kepada Allah dan Rasul-Nya" (H.R. al Bukhari). Maka tidak perlu dihiraukan ocehan-ocehan golongan musyabbihah yang menjelek-jelekkan ilmu ini, mereka mengatakan bahwa ilmu aqidah adalah ilmu kalam yang dicela oleh generasi salaf, dan mereka tidak tahu bahwa ilmu kalam yang tercela adalah ilmu kalam yang dicetuskan dan ditekuni oleh sekte-sekte mu'tazilah, musyabbihah dan golongan-golongan ahli bid'ah yang serupa dengan mereka, adapun ilmu kalam yang terpuji adalah ilmu kalam yang ditekuni oleh Ahlussunnah, yang mana dasar-dasarnya sudah ada di zaman sahabat, dan kami telah sebutkan mengenai hal itu. Banyak ulama yang menulis kitab-kitab berisi penjelasan aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah, seperti kitab al-Aqidah ath-Thahawiyyah karya Imam Abu Ja'far ath-Thahawi (w. 321 H), al Aqidah an-Nasafiyyah karya al Imam an-Nasafi (w. 573 H), al Aqidah al Mursyidahkarya Abu Abdillah Muhammad ibn Abdillah al Hasani yang lebih dikenal dengan julukan Ibnu Tumart (w. 524 H), yang mana kitab ini diajarkanoleh Syekh Fakhruddin Ibnu Asakir (w. 620 H), al Aqidah as-Shalahiyyah karya Imam Muhammad ibn Hibatillah al Makki (w. 599 H) yang diberi nama Hadaiq al Fushul wa Jawahir al Ushul, kitab ini kemudian dihadiahkan oleh pengarangnya kepada Sultan Shalahuddin al Ayyubi (w. 589 H), dan sang sultan pun menerimanya dengan penuh kegembiraan, beliau pun memerintahkan agar kitab tersebut diajarkan untuk semua kalangan bahkan kepada anak-anak di madrasah-madrasah sehingga kitab ini akhirnya dinamakan dengan al Aqidah ash-Shalahiyyah, dan Sultan Shalahuddin sendiri yang tercatat sebagai seorang alim dalam fiqih Madzhab Syafi'i memiliki perhatian khusus dalam menyebarkan aqidah sunniyyah ini, beliau memerintahkan kepada para muadzdzin pada waktu tasbih untuk mengumandangkan aqidah ini setiap malam, baik di Mesir, daratan Syam, Makkah atau Madinah, sebagaimana hal ini telah dinukil oleh Imam as-Suyuthi (w. 911 H) dalam kitabnya al Wasail ila Musamarah al Awail dan lain-lain, dan masih banyak lagi kitab-kitab lain dalam bidang aqidah yang masih juga dikarang dan ditulis hingga sekarang. Beberapa nash yang menunjukkan keutamaan Asya'irah Allah ta'ala berfirman:

يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة على

المؤمنين أعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لائم ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله واسع عليم (المائدة: )

           Maknanya: "Wahai orang-orang yang beriman, siapapundari kalian yang keluar dari agamanya (Islam), maka Allah akan mendatangkan kaum yang Ia ridlo kepada mereka dan mereka itu cinta kepada Allah, mereka itu bersikap lembut kepada sesama orang-orang mukmin, dan bersikap keras kepada orang-orang kafir, berjihad di jalan yang diridlai oleh Allah, dan tidak takut pada celaan orang yang mencela, itulah kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada siapapun yang Ia kehendaki, dan Allah Maha Pemurah lagi Maha Mengetahui". alHafizh Ibnu Asakir menyebutkan dalam kitabnya Tabyin Kadzib al Muftari dan al Hakim dalam Mustadraknya menyebutkan bahwa ketika turun ayat:

فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه

          Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Mereka adalah kaummu wahai abu Musa", seraya tangan beliau menunjuk kepada Abu Musa al Asy'ari", al Hakim berkata: "Hadits ini shahihsesuai dengan syarat Muslim", juga diriwayatkan oleh Imam at-Thabaridalam tafsirnya, Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya, dan juga oleh Ibnu Sa'd dalam thabaqatnya, juga at-Thabarani dalam al Mu'jam al Kabir.al Haitsami dalam Majma' az-Zawaid berkata mengenai hadits ini: "Para perawinya adalah perawi-perawi hadits shahih". alQusyairi berkata: "Jadi para pengikut Abu al Hasan al Asy'ari adalah kaum Abu Musa, karena dimanapun jika disandarkan kaum kepada nabi maka yang dimaksud adalah para pengikutnya, disebutkan oleh al Qurthubi dalam tafsirnya (juz. 6, hal. 220)". al Baihaqi berkata: "Hal itu dikarenakan fadhilah yang agung dan martabat yang mulia dalam hadits ini bagi Imam Abu al Hasan al Asy'ari –semoga Allah meridlainya-, beliau adalah termasuk anak cucu dan keturunan Abu Musa al Asy'ari yang diberi kelebihan ilmu, dikaruniai kepahaman, dan diberi kekhususan oleh Allah sebagai penegak ajaran nabi dan pemberantas bid'ah dengan mengungkapkan dalil dan membantah syubhat".Pernyataan ini disebutkan oleh Ibnu Asakir dalam Tabyin Kadzibal Muftari. Imam al Bukhari meyebutkan dalam Shahihnya: "Bab datangnya kaum Asy'ariyyin dan penduduk Yaman".Abu Musa meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Mereka adalah bagian dariku dan aku bagian dari mereka". Ketika turun ayat ini, tidak lama kemudian datanglah segerombolan kaum asy'ariyyin dan kabilah-kabilah dari yaman, al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أتاكم أهل اليمن هم أرق أفئدة وألين قلوبا الإيمان يمان والحكمة

يمانية

Maknanya: "Telah datang kepada kalian orang-orang yaman, mereka lebih lembut hatinya dan lebih halus perasaannya, termasuk salah satu keimanan yang sempurna adalah keimanan orang-orang Yaman, dan hikmah yang sempurna adalah hikmah dari Yaman". Imam al Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Imran ibn al Hushain bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam didatangi oleh sekelompok orang dari Bani Tamim, lalu rasulullah mengatakan kepada mereka: terimalah kabar gembira wahai Bani Tamim, namun mereka menjawab: Engkau telah memberi kabar gembira kepada kami, maka berilah kami dua kali, maka seketika itu raut muka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berubah –karena menyesalkan sikap mereka itu yang lebih mengutamakan dunia- lalu kemudian beliau didatang juga oleh sekelompok orang dari yaman, beliau pun mengatakan kepada mereka: Wahai orang-orang yaman terimalah kabar gembira yang tidak diterima oleh bani Tamim", mereka pun menjawab: kami telah menerimanya wahai Rasulullah, kami mendatangimu untuk mempelajari ilmu agama dan bertanya tentang awal mula penciptaan alam ini, Rasulullah menjawab:

كان الله ولم يكن شىء غيره

Maknanya:"Allah ada (tanpa permulaan), dan tidak ada sesuatupun selain-Nya". Allah ada (dengan keberadaan yang azali/tanpa permulaan), dan belum ada tempat, waktu, arah arsy langit, benda, gerak, diam, makhluk, lalu Allah menciptakan makhluk, dan setelah diciptakan makhluk-makhluk Allah tetap ada seperti sediakala (sebelum diciptakan makhluk), Ia subhanahu wa ta'ala ada tanpa bersifat dengan sifat makhluk, tanpa tempat dan tanpa arah. Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah, kita semua termasuk penganut aqidah sunniyyah yang kita yakini ini, dan yang dahulu diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, para sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, yang mana Rasulullah telah memuji pengikut aqidah ini dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al Bazzar, ath-Thabarani, al Hakim dengan sanad yang shahih:

لتفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش

Maknanya: "Konstantinopel akan ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang berhasil menaklukkannya, dan sebaik-baik bala tentara adalah bala tentara yang menaklukkannya". Dan konstantinopel telah ditaklukkan setelah 900 tahundari masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, penakluknya adalah as-Sulthan Muhammad al Fatih al Maturidi –semoga Allah merahmatinya- dan beliau beraqidah sunni, meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat, mencintai para shufi, dan bertawassul dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Sulthan Muhammad al Fatih dan bala tentaranya yang ikut bersamanya, telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa mereka itu dalam keadaan yang baik, dan demikian juga para raja-raja di kerajaan Turki Utsmani lainnya, mereka semua telah berjuang mempertahankan bendera kaum muslimin dan melindungi agama dalam berabad-abad lamanya. Ratusan juta umat Islam mengikuti ajaran aqidah ini, baik salaf maupun khalaf, di barat ataupun di timur, dalam pengajaran dan pembelajaran, kenyataan menjadi saksi kebenaran hal ini, dan kiranya cukup sebagai bukti kebenaran aqidah ini bahwa para sahabat, tabi'in, atba' at-tabi'in (dan mereka itulah yang dimaksud dengan as-salaf ash-shalih) dan termasuk orang-orang yang mengikutipara sahabat dengan baik meyakini aqidah ini, para huffazh pemuka-pemuka ahli hadits, sepertial Hafizh Abu Bakr al Isma'ili pengarang al Mustakhraj 'ala al Bukhari, al Hafizhal 'alam al masyhurAbu Bakr al Baihaqi, al Hafizhyang disebut-sebut sebagai Afdlalul Muhadditsindi daratan Syam pada zamannya al Hafizh Ibnu Asakir, kemudian datang setelah beliau seorang alim yang menyamai beliau dalam keilmuan, yang disebut-sebut sebagai Amirul Mukminin fil Hadits Ahmad Ibnu Hajar al Asqalani, dan orang yang betul-betul melihat dengan teliti pasti akan mengetahui bahwa kaum Asya'irah adalah tokoh-tokoh ternama dalam berbagai disiplin ilmu dan hadits, di antaranya: Mujaddid abad keempat hijriyyah al Imam Abu at-Thayyib Sahl ibn Muhammad, Abu al Hasan al Bahili, Abu Bakr ibn Furak, Abu Bakr al Baqillani, Abu Ishaq al Isfirayini, al HafizhAbu Nu'aim al Ashbahani, al QadliAbdul Wahhab al Maliki, as-Syaikh Abu Muhammad al Juwaini dan putranya Abu al Ma'ali Imamul Haramain al Juwaini, Abu Manshur al Baghdadi, al Hafizhad-Daraqutni, al Hafizh al Khatib al Baghdadi, al Ustadz Abu al Qasim al Qusyairi, dan putranya abu Nashr, asy-Syaikh Abu Ishaq as-Syirazi, Nashr al Maqdisi, al Ghazali, al Furawi, Abu al Wafa Ibnu Aqil al Hanbali, Qadli al Qudlatad-Damaghani al Hanafi, Abu al Walid al Baji al Maliki, al Imam as-Sayyid Ahmad ar-Rifa'i, Ibn as-Sam'ani, al Qadli 'Iyadl, al Hafizh as-Silafi, an-Nawawi, Fakhruddin ar-Razi, al 'Izz ibn Abdissalam, Abu Amr ibn al Hajib al Maliki, Ibnu Daqiq al 'Id, 'Alauddin al Baji, Qadli al QudlatTaqiyyuddin as-Subki, al Hafizh al 'Ala'i, al Hafizh Zainuddin al 'Iraqi, dan putranya al Hafizh Waliyuddin al 'Iraqi, al Hafizh Murtadla az-Zabidi al Hanafi, asy-Syaikh Zakariya al Anshari, asy-Syaikh Bahauddin ar-Rawwas as-Shufi, Mufti Makkah Ahmad Zaini Dahlan, Mufti India Waliyullah ad-Dihlawi, Mufti Mesir asy-Syaikh Muhammad 'Illaisy, Syaikh al Jami' al Azhar Abdullah asy-Syarqawi, asy-Syaikh Abu al Hasan al Qawuqji Nuqthat al Bikar fi Asanid al Mutaakhkhirin, Syaikh Husain al Jisr at-Tharabulsi, as-Syaikh Abdul Basith al Fakhuri Mufti Beirut, al Allamah 'Alawi ibn Thahir al Hadlrami al Haddad dan Syafi'iyyul Ashr Rifa'iyyul Awan as-Syaikh al Faqih al Muhaddits Abdullah al Harari, as-Syaikh as-Shufi as-Shadiq Mushthofa Naja Mufti Beirut, dan lain-lainpara pemuka agama yang teramat banyak dan tidak mengetahui keseluruhan jumlah mereka kecuali Allah semata. Termasuk juga al Wazir al MasyhurNizham al Mulk, as-Sulthan al Adil al 'Alim al Mujahid Shalahuddin al Ayyubi –semoga Allah merahmatinya-, pada masa kekuasaannya beliau memerintahkan agar dikumandangkan dasar-dasar aqidah sesuai dengan ibarat-ibarat Imam al Asy'ari di atas menara-menara sebelum adzan Shubuh, dan agar diajarkan nazhaman yang dikarang oleh Muhammad ibn Hibatillah al Barmaki untuk anak-anak di kuttab-kuttab, di antara bait-baitnya adalah sebagai berikut:

وصانع العالم لا يحويه قطر تعالى الله عن تشبيه قد كان موجودا ولا مكان وحكمه الآن على ما كان سبحانه جل عن المكان وعز عن تغير الزمان فقد غلا وزاد في الغلو من خصه بجهة العلو

Maknanya:"Dan pencipta alam ini tidak diliputi oleh arah, Maha Suci Allah dari serupa" "Allah ada (tanpa permulaan/azali) dan belum ada tempat, dan setelah menciptakan tempat Ia tetap ada seperti semula (tanpa tempat)" "Maha Suci Allah dari bertempat, dan Maha Suci Allah dari perubahan masa" "Telah berlebihan dan bertambah berlebihan, orang yang menetapkan Allah ada di arah atas". Inilah aqidah yang diajarkan di Universitas al Azhar di Mesir, dan di Universitas az-Zaitunah di Tunisia, bahkan diseluruh wilayah Maghrib, juga di Indonesia, Malaysia, Pakistan, Turki, daratan Syam, Sudan, Yaman, Irak, India, Afrika, Bukhara, Daghistan, Afganistan, dan semua Negara-negara Islam. Termasuk juga al Malik al Kamil al Ayyubi dan Sulthan al Asyraf Khalil ibn al ManshurSaifuddin Qalawun, dan semua sulthan-sultan di berbagai dinasti Mamluk. Kami tidak bermaksud dengan apa yang kami sebutkan ini untuk menghitung secara keseluruhan kaum asya'irah dan maturidiyyah, karena siapa yang bisa menghitung bintang-bintang di langit, atau mengetahui secara persis jumlah butiran-butiran pasir di gurun? Jadi Asya'irah dan maturidiyyah mereka itulah Ahlussunnah wal Jama'ah yang sebenarnya, dan merekala al Firqah an-Najiyah. Dan sepantasnya saya mengkhususkan Negara penyelenggara acara seminar ini yaitu Indonesia, yang mana mayoritas penduduknya adalah penganut ajaran sunni asy'ari, semenjak Islam masuk ke Negara ini, dan kemudian disebarluaskan dan dipertahankan oleh para ulama yang shalih. Sikap ghuluw pada banyak orang yang mengaku pengikut madzhab hanbali Dinamakan Hanabilah karena mereka berafiliasi kepada Imam Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal as-Syaibani(w. 241 H), salah seorangulama mujtahid yang terkemuka, terkenal dengan kezuhudan dan kawara'annya, jauh dari raja-raja, hanya menyibukkan diri dengan ilmu agama, meski kesulitan ekonomimelilit –semoga Allah merahmati dan meridloinya-. Imam Ahmad diberikan ujian dengan banyaknya orang yang berafiliasi kepada beliau, sebagaimana Imam Ja'far as-Shadiq diuji dengan banyak orang yang berafiliasi kepadanya, dan sebagaimana beberapa ulama lainnya diuji dengan murid-murid mereka yang menyimpang, menambah-nambah pada pendapat mereka hal-hal yang sebetulnya jauh di luar pendapat mereka itu, dan berbohong dengan mengatasnamakan mereka. Oleh karenanya kita temukan banyak ulama-ulama terkemuka seperti al Baihaqi, Ibnu al Jauzi, Abu al Hasan al Asy'ari meriwayatkan dari Imam Ahmad dengan sanad-sanad yang kuat, berbeda dengan riwayat-riwayat para pengikut beliau sendiri yang berlebihan dan menyimpang. Tapi yang saya maksudkan di sini, kita tidak boleh menisbatkan kepada Imam Ahmad semua yang dinisbatkan kepada beliau oleh setiap orang yang berafiliasi kepada beliau. Imam Ahmadsendiri terkenal dengan keteguhan iman beliau setelah dilakukan imtihan dalam peristiwa mihnah khalq al Qur'an yang terjadi pada awal abad ketiga hijriyyah. Dan Imam Ahmad saat itu teguh mempertahankan keyakinan beliau dan tidak tergelincir pada jurang kesalahan sebagaimana yang terjadi pada beberapa ulama lain saat dilakukan imtihan kepada mereka oleh penguasa Abbasiyyah. Tidak diragukan lagi bahwa aqidah tajsim dan tasybih (menyerupakan) Allah dengan makhluk-Nya telah dimunculkan oleh beberapa orang sebelum hanabilah, seperti al Mughirah ibn Said, Hisyam ibn al Hakam, dan yang semasa dengan mereka seperti al Karramiyyah pengikut Muhammad ibn Karram as-Sijzi (dan kebanyakan as-Sijziyyin memiliki aqidah tajsim), jadi sebenarnya pengikut-pengikut madzhab hanbali yang menyimpang tidak merintis bid'ah tajsim dan tasybih ini, tapi mereka menghimpun apa yang terpisah-pisah dari pendahulu mereka, lalu menambah-nambahinya, menyebarkan dan membelanya sebagai akibat permusuhan mereka dengan kelompok Mu'tazilah dan lain-lain yang teramat berlebih-lebihan dalam menafikan sifat. Sejarah kemunculan pengikut-pengikut madzhab hanbali yang ekstrim dan gerakan-gerakan mereka berkaitan dengan paham tajsim, tasybih, menggunakan kekerasan yang membuat jengkel, dan penyebaran fitnah, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu al Atsir dalam tarikhnya tentang fitnah-fitnah yang ditimbulkan oleh para pengikut Madzhab Hanbali yang menyimpang pada beberapa tahun; 310 H, 317 H, 323 H, 329 H, 447 H, 469 H, 475 H, 488 H, 567 H, 596 H. Para pengikut madzhab hanbali yang ekstrim itu menamakan diri mereka sebagai ahlussunnah wal jama'ah atau pengikut as-salaf as-shalih, mengaku-ngaku mengikuti jalan mereka, tapi mayoritas ummat para pengikut Mazhab Syafi'i, Hanafi, Maliki dan Hanbali yang lurus tidak menyetujui mereka dan sebaliknya menentang mereka. Di antara kitab-kitab yang paling terkenal sebagai rujukan para mujassimah yang barafiliasi pada Madzhab Hanbali (baik yang mereka karang sendiri atau karangan orang lain di luar kelompok mereka) adalah sebagai berikut: al Haydah karya al Kinani (w. 240 H), as-Sunnah (yang dinisbatkan kepada) Abdullah ibn Ahmad (w. 291 H), Kitab an-Naqdl 'ala Bisyr al Mirrisi karya ad-Darimi Utsman ibn Sa'id (w. 281 H), as-Sunnahkarya al Khallal (w. 311 H), Kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah (w. 311 H), Syarh as-Sunnah karya al Barbahari (w. 329 H), Kitab al Iman dan Kitab at Tauhid karya Ibnu Mandah (w. 395 H), Kitab as-Syari'ah karya al Ajurri (w. 360 H), al Ibanah karya Ibnu Baththah al Hanbali (w. 387 H), Syarh Ushul I'tiqad Ahlissunnahkarya Abu al Qasim al Lalika'i (w. 418 H), Kumpulan beberapa risalah yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H), al Azhamah karya Abu as-Syaikh al Ashbahani (w. 369 H), dan kitab-kitab Abu Ya'la al Hanbali (w. 548 H). Dalam kitab-kitab para pengikut Madzhab Hanbali yang ekstrim ini banyak disebutkan kesalahan fatal mereka dan masih juga menjadi fitnah pemecah belah ummat hingga kini, sepert; takfir syumuli (pengkafiran secara menyeluruh) , penyesatan tanpa dalil, pembid'ahan tanpa dalil, menvonis fasiq tanpa dalil, kezhaliman, sikap berlebihan kepada para masyayikh, celaan, kebohongan, tajsim, takwil yang bathil, lebih mengutamakan orang-orang kafir dari pada kaum muslimin, pembolehan membunuh siapa saja yang mereka anggap sebagai musuh, isra'iliyyat, dan lain-lain. Contoh-contoh Pengkafiran Dari Para Pengikut Mazhab Hanbali Yang Ekstrim * Pengkafiran Imam Abu Hanifah dan penganut Mazhab Hanafi, serta pencelaan dan pembid'ahan terhadap mereka yang terdapat dalam kitab-kitab pengikut Mazhab Hanbali yang ekstrim!!: Dalam kitab as-Sunnah yang dinisbatkan kepada Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal (w. 290 H) menyebutkan kalimat yang berisi tuduhan dan celaan dari musuh-musuh Abu Hanifah yang mensifati beliau sebagai; kafir, zindiq, meninggal dalam keadaan sebagai pengikut aqidah Jahmiyyah, merusak Islam sedikit demi sedikit, tidak pernah dilahirkan dalam lingkungan ummat Islam orang yang lebih jelek dan lebih berbahaya kepada ummat darinya, abu al khathaya (sumber kesalahan-kesalahan), menipu agama, abu jifah(bangkai), dan bahwa beliau adalah orang pertama yang mengatakan al Qur'an adalah makhluk. Saya yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa kitab as-Sunnahini dipalsukan penisbatannya kepada Imam Ahmad dan banyak dimasukkan sisipan-sisipan tidak benar di dalamnya, siapapun dari kita yang mencoba membandingkan antara kitab as-Sunnahini dengan kitab beliau Musnad al Imam Ahmad, maka akan menemukan perbedaan yang teramat jelas, atau juga jika dibandingkan dengan kitab-kitab induk dalam Mazhab Hanbali seperti kitab al Mughnikarya Ibnu Qudamah dan lain-lainnya, maka akan menemukan perbedaan yang sama. Mujassimah zaman sekarang –yaitu kelompok Wahhabiyyah- juga seperti ini, salah satu pemuka mereka yang bernama al Qanuji menyebutkan dalam kitabnya yang dia beri nama ad-Din al Khalish (juz 1/hal 140): "Taqlid kepada mazhab adalah kesyirikan", dengan ini berarti bahwa dia telah mengkafirkan semua ummat Islam pada masa sekarang ini, karena ummat Islam saat ini semuanya adalah penganut mazhab empat, dan mereka itu menurut kelompok Wahhabi adalah kafir. Ali ibn Muhammad ibn Sinan pengajar di masjid an-Nabawi dan perguruan tinggi yang dinamakan al Jami'ah al Islamiyyahdalam kitabnyayang dinamakan al Majmu' al Mufid min Aqidah at Tauhid, hal 55, dia berkata: "Wahai umat Islam tidak bermanfaat islam kalian, kecuali jika kalian terang-terangan memerangi tarekat-tarekat shufiyyah dan menghabisinya, perangilah mereka sebelum kalian memerangi Yahudi dan Majusi". Orang–orang Wahabi mengkafirkan penduduk semua negara-negaraIslam dan ulama–ulamanya sebagaimana tersebut dalam kitab mereka yang dinamakan Fath al Majid mereka mengatakan dalam kitab tersebut pada hal. 190:"Khususnya telah diketahui bahwa kebanyakan ulama–ulama di daerah–daerah tidak mengetahui tentang tauhid kecuali yang di tetapkan oleh orang–orang musyrik saja". Kemudian penulis buku itu berkata: "Penduduk Mesir semuanya kafir karena mereka menyembah Ahmad al Badawi, juga penduduk Irak dan sekitarnya seperti Omman, mereka semua kafir karena mereka menyembah al Jilani, dan penduduk Syam semuanya kafir, mereka menyembah Ibnu Arabi dan begitu juga dengan penduduk Yaman, Najd dan Hijaz". Dan didalam kitab mereka yang dinamakan I'shar at-Tauhidkarya Nabil Muhammad mereka mengkafirkan para kaum sufi dan ahli tarekat dan semua penduduk negara–negara Islam seperti Mesir,Libya, Maroko, India, Persia, Asia Barat, negara–negara di dataran Syam,Nigeria, Turki, negara-negara di wilayah Romawi, Afganistan, negara–negaraTurkistan di China, Sudan, Tunisia,al Jazair. Sampai Sayyidah Hawa tidak lepas dari pengkafiran Wahabiyah, sebagaimana disebutkan oleh al Qanuji dalam kitab yang dia namakan ad Din al Khalis, juz.1, hal. 160, dia mengatakan: "Pendapat yang benar adalah bahwa kesyirikan telah dilakukan oleh Hawa saja, dan bukan Nabi Adam".Dari sini diketahui bahwa orang–orang Wahabi menjadikan semua manusia adalah anak–anak zina. Dan dalam kitab mereka dinamakan at-Tauhidyang merupakan buku panduan kurikulum untuk kelasa 1 madrasah aliyah, karangan al Fauzan dari kementrian bidang pendidikan dan pengajaran kerajaan Saudi Arabia terbitan tahun 1424 H,hal. 66 dan 67, mereka mensifatikaum Asya'irah dan Maturidiyah dengan kesyirikan, dan mereka berkata tentang orang–orang musyrik zaman dahulu: "Mereka orang–orang musyrik adalah pendahulu bagi kelompok Jahmiyah, Mu'tazilah dan Asya'irah". Dalam kitab Ibn Baz yang dinamakan Fatawa fil Aqidah surat–surat petunjuk untuk pimpinan lembaga keamanan Negara halaman 13 Ibnu Baz berkata tentang orang–orang yang beristighosah dan bertawasul dengan para nabi dan para wali bahwa mereka itu adalah orang–orang musyrik dan kafir yang tidak boleh dinikahkan dan tidak boleh bagi mereka untuk masuk masjidil haram dan tidak diberlakukan seperti perlakuan terhadap orang–orang Islam meskipun mereka tidak tahu, dan tidak dihiraukan ketidaktahuan mereka itu bahkan wajib hukumnya untuk diperlakukan (menurutnya) seperti perlakuan terhadap orang–orang kafir. Muhammad Ahmad Basymil dalam kitabnya yang dinamakan Kaifa Nafhamu at-Tauhid mengatakan pada halaman 16: "Abu Jahal dan Abu Lahab lebih kuat tauhidnya dan lebih murni keimanannya kepada Allah dari pada orang Islam yang megatakan lailahailallah-muhammadurrasulullah, karena mereka bertawasul dengan para wali dan orang–orang shalih". Pengkafiran Menurut Ibnu Taimiyah Landasan pengkafiran sudah ada pada perkataan-perkataan Ibnu Taimiyah (w. 728 H), ketika dia sangat berlebihan dalam membedakan antara tauhidrububiyyah dan tauhiduluhiyyah, dia terlalu mempermudah dalam permasalahan pertama,sebaliknya terlalu keras dan berlebihan dalam permasalahan kedua, bahkan pembedaan semacam itu pada dasarnya adalah pembedaan yang dia ada-adakan yang tidak ada dalam al Qur'an dan hadits Rasulullah shallallhu 'alaihi wasallam, bahkan sebelumnya tidak ada satupun dari para sahabat atau tabi'in yang mengatakan tentang pembedaan ini. Padahal kita tahu bahwa tauhid itu hanyalah satu, dan pembedaan semacam inilah yang membuat Ibnu Taimiyah dan pengikut-pengikutnya mengatakan bahwa Allah tidak mengutus para rasul kecuali hanya untuk tujuan tauhid uluhiyyah saja, adapun tauhid rububiyyah, maka orang-orang kafir juga mengakuinya!! Makna uluhiyyah dan rububiyyah menurutnya adalah saling bertentangan, dia meyakini bahwa rububiyyah adalah khaliqiyyah (keberadaan Tuhan sebagai pencipta) saja, Ibnu Taimiyah telah memasukkan dalam aqidah ini permasalahan yang tidak ada di dalamnya,terutama dalam permasalahan furu', dan semua tuduhan kufur dan syirik darinya masuk kepada permasalahan furu' saja, seperti tawassul, istighatsah, ziarah qubur, dll. Pengkafiran Menurut Ibnu al Qayyim Ibnu al Qayyim menulis satu fasal dalam nuniyyahnya yang diberi judul (Fasal: Menjelaskan bahwa muaththil adalah musyrik)!! yangdia maksud dengan muaththildi sini sebagaimana disebutkan oleh penyarah kitab ini Muhammad Khalil Haras: adalah para filosof, Muktazilah, Asy'ariyyah, Qaramithah dan Shufiyyah, ada percampuran antara Qaramithah dan Asy'ariyyah!! Selain percampuran antara Qaramithah dan Shufiyyah!! Ibnu al Qayyim berkata dalam nuniyyahnya: لكن أخو التعطيل شر من أخي ال إشراك بالمعقول والبرهان Maknanya: "Tapi orang yang muaththil itu lebih keji dari orang yang melakukan kesyirikan, sesuai dengan logika dan dalil". Tajsim dan Tasybih Yang Terdapat Dalam Kitab-Kitab Pengikut Madzhab Hanbali YangEkstrim - Syeikh Abdul Mughits al Harbi al Hanbali menshahihkan hadits istilqa', yaitu hadits yang di dalamnya terdapat bahwa Allah setelah selesai menciptakan makhluk-makhluk Ia terlentang dan meletakkan kaki satu di atas kaki yang lain , dan ini adalah tasybih yang amat jelas sekali. - al Ahwazi al Hanbali menulis sebuah kitab yang cukup besar tentang sifat-sifat, di antaranya hadits 'araqal Khail yang redaksinya menyebutkan bahwa Allah ketika hendak menciptakan Dzat-Nya Ia menciptakan kuda dan membuatnya berlari, sampai berkeringat, lalu menciptakan dzat-Nya dari keringat itu , Maha Suci Allah dari semua itu. - Mereka meriwayatkan bahwa al maqam al mahmudbagi Nabi Muhammad adalah duduknya beliau bersama tuhan di atas Arsy, dan mereka menganggap orang yang menyalahi ini sebagai pengikut Jahmiyyah atau zindiq!! Dan bahwa adanya hari penghitungan amal tidak wajib diyakini . al Barbahari tokoh Mujassimah dari pengikut Madzhab Hanbali pada masanya, di setiap majlisnya dia selalu menyebutkan bahwa Allah mendudukkan nabi bersamanya di atas 'Arsy . - Dalam kitab mereka yang dinamakan kitab as-Sunnah hal. 75, mereka mengatakan: "Allah berada di atas Arsy, dan Kursi adalah tempat kedua kakinya". Dan pada hal. 76 mereka mengatakan tentang Allah: "Ia bergerak". Ibnu Taimiyah Adalah Pembaharu Aqidah Tajsim * Ibnu Bathuthah dalam Rihlahnya hal. 90 menyebutkan: "Di Damaskus pernah ada seorang yang merupakan salah satu pembesar Madzhab Hanbali yang bernama Ibnu Taimiyah, ia banyak berbicara dalam berbagai macam disiplin keilmuan, tapi ada ketidak beresan di akalnya, …. pada saat itu aku sedang di Damaskus, aku menghadiri majlisnya pada hari jum'at, dan dia memberi mauizhah kepada orang-orang di atas minbar masjid jami',seraya mengingatkan orang-orang, dan di antara yang diomongkannya adalah: "Allah turun ke langit pertama seperti turunnya aku dari minbar ini! Lalu dia turun setingkat demi setingkat di atas tangga mimbar, lalu dibantahlah oleh seorang Faqih Maliki yang dikenal dengan sebutan Ibnu az-Zahra',Ia mengingkari apa yang diucapkan Ibnu Taimiyah, dan orang-orangpun mendekati faqih tersebut, lalu memukuli Ibnu Taimiyah dengan tangan dan sandal berkali-kali sampai terlepas surbannya". alHafizhIbnu Hajar dalam ad-Durar al Kaminah juz. 1/hal.154 berkata: "Mereka menyebutkan bahwa Ibnu Taimiyah menyebutkan hadits nuzul, lalu dia turun dari atas mimbar seraya berkata: 'Seperti turunnya aku ini', maka akhirnya dia dikenal sebagai penganut ajaran tajsim". * Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu'nya juz.4/hal. 374: "Muhammad didudukkan oleh tuhannya di atas Arsy bersamanya". Dan berkata dalam kitabnya Talbis al Jahmiyyah juz.1, hal. 573: "Allah berada di atas Arsy dan para malaikat yang menyangga Arsy merasakan berat badan Allah". Ibnu al Qayyim murid Ibnu Taimiyah berkata: "Allah duduk di atas Arsy, dan Ia mendudukkan Muhammad bersamanya", pernyataan ini dia sebutkan dalam kitab Badai' al Fawa'id juz. 4, hal. 40. * Abu Hayyan al Andalusi dalam kitabnya an-Nahr al Madd: "Aku membaca di kitab Ibnu Taimiyah -yang semasa denganku- sebuah tulisan tangannya sendiri, yang dia beri nama Kitab al 'Arsy, ia menulis: "Allah duduk di atas Kursi dan Ia mengosongkan tempat untuk mendudukkan Rasulullah bersamanya", at-Taj Muhammad ibn Ali ibn Abdil Haq al Barinbari membuat tipudayaterhadapnya, ia berpura-pura mendukungnya, sampai akhirnya ia mendapatkan kitab itu, dan kami membaca perkataannya itu di kitab tersebut". Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Bayan Talbis al Jahmiyyah juz.1/hal.568 menukil dari salah seorang mujassim dan menyepakatinya: "Kalau seandainya Allah berkehendak, maka ia akan menempat di atas punggung nyamuk, dan nyamuk itu akan kuat mengangkatnyadengan kekuasaannya dan pengaturannya yang menjadikan nyamuk seperti itu, (menurutnya kalau nyamuk saja dijadikan oleh Allah mampu mengangkatnya) apalagi Arsy yang begitu besar". Dan Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya yang dinamakan Minhaj as-Sunnah juz.1/hal.210: Kita mengatakan bahwa Allah bergerak dan muncul pada dzatnya sifat-sifat baharu dan sifat-sifat makhluk, lalu apa dalil yang menunjukkan kesalahan pendapat kami ini?" Dan berkata dalam kitabnya MuwafaqatuSharih al Ma'qul li Shahih al Manqul juz.2/hal. 29 menukil dari salah seorang mujassim dan menyetujuinya: "Allah memiliki batasan yang tidak diketahui kecuali oleh Dia saja, dan tidak boleh bagi seorang untuk membayang-bayangkan batasan itu, tetapi wajib baginya untuk beriman akan adanya batasan itu, sertamenyerahkan ilmu tentang hakikat batasan tersebut hanya kepada Allah, dan tempat Allah pun memiliki batasan, Dia di atas Arsy di atas langit yang tujuh dan inilah dua batasan baginya". Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Muwafaqat Sharih al Ma'qul li Shahih al Manqul, juz.2/hal. 29-30 menukil perkataan salah seorang mujassimah dan menyetujuinya: "Telah bersepakat kaum muslimin dan kafirin dalam satu kata bahwa Allah ada di atas langit, dan mereka membatasi Allah dengan batasan itu". Dan Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Talbis al Jahmiyyah, juz 1/hal. 427: "Ini semua dan yang semisalnya adalah bukti dan dalil tentang adanya batasan bagi Allah, dan orang yang tidak mau mengakui adanya batasan baginya, berarti dia telah mengingkari al Qur'an dan menentang ayat-ayat Allah". Perkataan ini dia nukil dari salah seorang mujassimah dan dia menyetujuinya. Dan Ibnu Taimiyah menyebutkan dalam kitabnya at Ta'sis fi Radd Asas at-Taqdis juz 1/hal. 100: "Dan tidak mencela seseorangpun dari generasi salaf orang lain karena dia adalah seorang mujassim, dan tidak ada satupun dari mereka yang mencela kaum mujassimah". Dan dia berkata juga dalam kitab yang sama juz. 1/hal. 101: "Dan tidak terdapat dalam kitab Allah, hadits Rasulullah, atau perkataan salah seorang dari generasi salaf dan para ulamanya bahwa Allah bukanlah benda, dan bahwa sifat-sifatnya bukanlah benda atau sifat-sifat benda?! Maka menafikan sifat-sifat yang ditetapkan dalam nash-nash syara' dan akal dengan menafikan lafazh-lafazhnya yang mana syara' tidak menafikan makna-maknanya adalah suatu kesesatan dan kebodohan". Dan berkata juga dalam kitab yang sama juz. 1/hal 109: "Jika demikian, maka nama musyabbihah tidak disebutkan dengan celaan baik dalam al Qur'an, hadits, atau perkataan sahabat dan tabi'in". Dan dia juga berkata dalam kitab yang sama juz. 1/hal. 111 perkataan yang menetapkan arah bagi Allah dengan tegas yang berbunyi: "Dan al Bari subhanahu wa ta'aladi atas alam secara hakiki dan bukan ketinggian derajat". Dan dalam kitab Bayan Talbis al Jahmiyyah karya Ibnu Taimiyah diterbitkan di Saudiyah Majma' al Malik Fahd halaman 358, Ibnu Taimiyah mengatakan: "Perkataannya:"maka aku bersama tuhanku dalam bentuk yang paling bagus", jelas sekali menerangkan bahwa yang memiliki bentuk yang paling bagus adalah tuhan". Lihatlah pada tasybihnya yang begitu jelas di sini,IbnuTaimiyah menyifati Allah dengan bentuk dan rupa, dan sudah diketahui di kalangan umat Islam bahwa makna hadits tersebut bukanlah seperti itu, akan tetapimaksud dari hadits tersebut adalah tentang Nabi Muhammad, artinya yang sedang dalam rupanya yang paling bagus adalah Nabi Muhammad. Dan pada hal. 365 pada kitab yang sama Ibnu Taimiyah berkata: "Nabi Muhammad menyebutkan bahwa beliau melihat tuhannya dalam berupa seorang pemuda yang kedua kakinya lebat dengan bulu dengan warna kehijauan, mamakai dua alas kaki dari emas, di wajahnya terdapatkupu-kupu dari emas. Dan pada hal. 375 ia berkata: "Perkataan orang yang mengatakan bahwa Dia meletakkan kedua tangannya di atas kedua pundakku sampai aku merasakan dinginnya ujung-ujung jarinya di dadaku atau antara kedua tetekku adalah jelas sekali menegaskan bahwa meletakkan tangan adalah tangan yang hakiki dan tidak mengandung kemungkinan makna nikmat dari segi apapun. Kemudian dia juga berkata pada halaman 407 perkataan yang menampakkan sebenarnya akidahnya yang meyakini jism bagi Allah, dia berkata: "Kedua: telah kami sebutkan bahwa semua yang disebutkan dari dalil-dalil ini ialah yang menafikan jism sesuai dengan istilah mereka adalah dalil-dalil yang salah". Dan dia juga berkata pada halaman 543: "Bahkan kami mengatakan semua yang ada itu berdiri sendiri, dan hakikatnya seperti itu.Dan bahwa apa yang tidak seperti itu ialah 'aradl (sifat benda) yang berdiri pada selainnya, dan tidak diterima akal suatu yang ada kecuali apa yang bisa ditunjukkan atau yang seperti apa-apa yang bisa ditunjukkan". Aqidah Imam Ahmad ibn Hanbal dan Terlepasnya Beliau Dari Sangkut Paut Dengan Para Penganut Aqidah Tajsim Hal terpentingdari Imam Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal radliyallahu 'anhu semasa hidup beliau adalah manhaj beliau dalam aqidah dan keteguhan beliau dalam berpegang teguh dengan ajaran al Qur'an dan Sunnah dan ajaran generasi salaf: - Dalam mentauhidkan Allah dan menyucikan-Nya dari benda, tempat, arah, bergerak dan diam, Imam Abu al fadl at-Tamimi al Hanbali dalam kitab I'tiqad al Imam Ahmad hal. 38, dari Imam Ahmad bahwa beliau berkata: والله تعالى لا يلحقه تغير ولا تبدل ولا تلحقه الحدود قبل خلق العرش، وكان ينكر الإمام أحمد على من يقول إن الله في كل مكان بذاته لأن الأمكنة كلها محدودة Maknanya: "Allah tidak berubah dan tidak mengalami pergantian, tidak diliputi oleh batasan sebelum menciptakan 'Arsy, dan Imam Ahmad mengingkari orang yang mengatakan bahwa Allah dengan dztNya berada di semua tempat, karena tempat-tempat itu ada batasannya". - Imam Abu al Fadl at-Tamimi pemuka madzhab hanbali di Baghdad dan putra pemuka madzhab Hanbali dalam kitabnya (I'tiqad al Imam Ahmad hal. 45): وأنكر أحمد على من يقول بالجسم وقال إن الأسماء مأخوذة من الشريعة واللغة، وأهل اللغة وضعوا هذا الاسم على ذي طول وعرض وسمك وتركيب وصورة وتأليف والله تعالى خارج عن ذلك كله فلم يجز أن يسمى جسما لخروجه عن معنى الجسمية ولم يجئ في الشريعة ذلك فبطل Maknanya: "Imam Ahmad mengingkari orang yang mengatakan bahwa Allah adalah jism, dan beliau berkata bahwa nama-nama itu diambil dari ajaran syara' dan bahasa, dan para ahli bahasa menggunakan kata jism untuk sesuatu yang memiliki panjang, lebar, kedalaman, susunan, dan bentuk, dan Allah di luar semua itu, maka tidak boleh dikatakan bahwa Allah adalah jism karena Allah bukanlah jism, dan dalam ajaran syari'at tidak ada nash yang menyebutkan itu, maka perkataan orang bahwa Allah itu jism adalah bathil". - Al Imam al Hafizh Ibnu al Jauzi berkata dalam kitabnya Daf'u Syubah at-Tasybih hal. 56 berkata: براءة أهل السنة عامة والإمام أحمد خاصة عن عقيدة المجسمة وقال: كان أحمد لا يقول بالجهة للبارئ Maknanya: "Terlepasnya Ahlussunnah umumnya dan Imam Ahmad khususnya dari aqidah tajsim, dan berkata: Imam Ahmad tidak menisbatkan arah bagi Allah". - Al Qadli Badruddin ibn Jama'ah dalam kitabnya Idlah ad-Dalil fi Qath'i Syubahi ahli at-Ta'thil hal. 108 menyebutkan bahwa Imam Ahmad tidak mengatakan bahwa Allah berada di suatu arah tertentu. - Al Imam al Hafizh al Iraqi, al Imam al Qarafi, Syeikh Ibnu Hajar al Haitami , Mulla Ali al Qari , Muhammad Zahid al Kautsari dan lain-lain menukil dari para imam madzhab empat, penunjuk ummat Imam Syafi'i , Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Abu Hanifah perkataan mereka yang berisi tentang pengkafiran orang yang mengatakan bahwa Allah ada di suatu arah atau beraqidah tajsim", bahkan penulis kitab al Khishalyang merupakan salah seorang pengikut madzhab Hanbali menukil dari Imam Ahmad tentang pengkafiran orang yang mengatakan: الله جسم لا كالأجسام Dan perkataan beliau yang masyhur yang diriwayatkan oleh Abu al Fadl at-Tamimi al Hanbali: مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذلك Maknanya: "Apapun yang terlintas dalam benakmu maka Allah tidak seperti itu". Ini merupakan dalil yang menunjukkan kejernihan aqidah Imam Ahmad dan bahwa beliau meyakini aqidah tanzih. - Begitu juga Imam Ahmad mentakwil ayat-ayat mutasyabihat yang beirisi tentang sifat-sifat, al Baihaqi meriwayatkan dari al Hakim dari Abu Amr ibn as-Sammak dari Hanbal bahwa Ahmad ibn hanbal mentakwil firman Allah: وجاء ربك bahwa yang datang adalah pahala amalan yang diberi oleh-Nya, al Baihaqi berkata: ini sanadnya bersih dan tidak ada sedikitpun debu di atasnya, dan ini juga dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Tarikhnya (juz. 10/hal. 327). Dalam riwayat lain yang dinukil oleh al Baihaqi dalam manaqib Ahmad bahwa Imam berkata: جاءت قدرته أي أثر من آثار قدرته Maknanya:"Datang tanda-tanda kekuasaan-Nya". Al Baihaqi berkata: "Di sini terdapat dalil bahwa Imam Ahmad tidak berkeyakinan bahwa "al maji"jika disandarkan kepada Allah seperti tersebut dalam al Qur'an, atau "nuzul" jika dinisbatkan kepada Allah seperti tersebut dalam hadits berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lainseperti datangnya makhluk yang memiliki bentuk, tapi bermakna ungkapan nampaknya tanda-tanda kekuasaan Allah" Dalam kitab al Futuhat ar-Rabbaniyyah 'ala al Adzkar an-Nawawiyyah karya seorang ulama ahli tafsir bernama Muhammad ibn 'Allan ash-Shiddiqi asy-Syafi'I al Asy'ari al Makki (w. 1057 H), pada "Bab: Anjuran Untuk Berdo'a Dan Beristighfar Pada Paruh Kedua Setiap Malam" juz. 2/hal. 196: "Dan Allah Maha Suci dari arah, tempat, bentuk, dan semua sifat-sifat baharu, dan ini adalah keyakinan penganut kebenaran, termasuk Imam Ahmad ibn Hanbal, dan apa saja yang dinisbatkan oleh sebagian orang kepada beliau yang berisi tentang penisbatan arah bagi Allah atau yang semisalnya, semuanya itu adalah kebohongan yang nyata terhadap beliau, dan terhadap para pengikutnya yang terdahulu, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al Jauzi yang merupakan salah satu pembesar dalam Madzhab Hanbali". al Hafizh Ibnu Asakir –semoga Allah merahmatinya- dalam kitabnya Tabyin Kadzib al Muftari fi Ma Nusiba Ila al Imam Abi al Hasan al Asy'ari hal. 164: "Ibnu Syahin mengatakan: dua orang yang shalih diuji dengan orang-orang yang buruk, Ja'far ibn Muhammad dan Ahmad ibn Hanbal". Dalam al Fatawa al Haditsiyyahkarya Ibnu Hajar al Haitami (w. 973 H), pada halaman 144 mengatakan: "Aqidah Imam as-Sunnah Ahmad ibn Hanbal adalah aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah yaitu aqidah tanzih (mensucikan) Allah dari apa-apa yang dikatakan oleh orang-orang yang zhalim dan orang-orang yang menentang, mensucikan Allah dari arah dan kebendaan dan lain-lain yang termasuk tanda-tanda kekurangan dan bahkan dari semua sifat yang tidak mengandung arti kesempurnaan secara muthlaq, dan yang terkenal di kalangan orang-orang bodoh yang berafiliasi kepada Imam Ahmad bahwa beliau menisbatkan arah kepada Allah adalah kebohongan semata, laknat Allah bagi orang yang menisbatkan itu kepada Imam Ahmad, atau menuduh beliau dengan kejelekan-kejelekan ini, semoga Allah membebaskan beliau dari itu semua". Penutup Berisi Nasehat Allah ta'ala berfirman: كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر (آل عمران: 110) Maknanya: "Kalian adalah sebaik-baik umat di antara seluruh umat manusia, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran" (QS Ali Imran: 110). Allah ta'ala berfirman: والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ويقيمون الصلاة ويؤتون الزكاة ويطيعون الله ورسولهأولئك سيرحمهم الله إن الله عزيز حكيم (التوبة: 71). Maknanya: "Orang-orang yang beriman baik laki-laki atau perempuan sebagaian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain, mereka memerintahkan kepada keta'atan, dan mencegah kemunkaran, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menta'ati Allah dan rasul-Nya, mereka itu yang dirahmati oleh Allah, dan Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana". Allah ta'ala berfirman tentang Nabi Nuh 'alaihissalam: أبلغكم رسالات ربي وأنصح لكم وأعلم من الله ما لا تعلمون (الأعراف: 62). Maknanya: "Aku sampaikan kepada kalian risalah dari Tuhanku dan aku mengetahui dari wahyu Allah apa yang tidak kalian ketahui". Dan tentang Nabi Hud 'alaihissalam: أبلغكم رسالات ربي وأنا لكم ناصح أمين (الأعراف: 68). Maknanya: "Aku sampaikan kepada kalian risalah dari Tuhanku dan aku adalah pemberi nasehat kepada kalian yang terpercaya". Dari Tamim ad-Dari –semoga Allah meridloinya- bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "الدين النصيحة"، قلنا لمن؟ قال: "لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم (رواه مسلم). Maknanya: "(termasuk perkara yang teramat penting dalam) Agama ini adalah nasehat", para sahabat bertanya: "Apa nasehat itu?" Rasulullah menjawab: "Nasehat untuk beriman kepada Allah, beriman kepada kitab Allah, beriman kepada Rasulullah, membantu para pemimpin umat Islam, dan menasehati orang awam kepada mashlahat dan keta'atan". Dan dari Jarir –semoga Allah meridloinya- berkata: بايعت رسول الله صلى الله عليه وسلم على إقام الصلاة وإيتاء الزكاة والنصح لكل مسلم (رواه البخاري ومسلم). Maknanya: "Aku berjanji kepada Rasulullah untuk selelu menjalankan shalat, mengeluarkan zakat, dan menasehati setiap muslim". Nasehat kami kepada setiap muslim untuk selalu berpegang teguh dengan aqidah sunniyyah Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, dan bersungguh-sungguh untuk menyebar dan menegakkannya, terutama para ulama dan umara', dan setiap kita dimanapun dia berada. Dengan ini ummat Islam akan menjadi kuat dan disegani oleh ummat-ummat lain. Dan ini adalah penjagaan dan benteng untuk setiap daerah, dan keamanan serta ketentraman bagi setiap Negara. Ketahuilah wahai saudaraku yang seiman –semoga Allah merahmatimu dengan taufiq-Nya- bahwa jalan untuk mencapai penyatuan ummat dan penyeragaman kata mereka adalah dengan menyatukan hati mereka dalam satu aqidah yang benar yaitu aqidah Asy'ariyyah dan Maturidiyyah Ahlussunnah wal Jama'ah, aqidah as-Salaf as-Shalih, aqidah Nabi Muhammad dan para sahabatnya dan ahlul bait dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Kalau kita mengambil dua contoh ini: Pertama: Sulthan Muhammad al Fatih al Utsmani al Maturidi Kedua: Sulthan Shalahuddin al Ayyubi al asy'ari asy-Syafi'i Keduanya telah berjuang dalam menyebarkan aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah dan mengumpulkan hati orang-orang dalam satu kalimat tauhid, sehingga mempermudah mereka dalam menyatukan tentara Islam dalam satu barisan, akhirnya sulthan Muhammad al Fatih berhasil menaklukkan konstatinopel, dan Sultan Shalahuddin berhasil membebaskan Masjid al Aqshadari cengkeraman pasukan salib setelah dikuasai oleh mereka selama 90 tahun. Sulthan Muhammad al Fatih Nama lengkapnya sulthan Muhammad Khan Fatihul Qisthanthiniyyah ibn Murad, dilahirkan pada tahun 835 H, termasuk salah satu raja terkemuka di kalangan raja-raja keluarga Utsman dan yang paling kuat dalam berjuang. Melaksanakan beberapa kali peperangan, yang paling besar adalah perang dalam penaklukan Konstatinopel setelah dikepung selama 51 hari, tepatnya pada tanggal 24 Jumada al akhirah tahun 857 H, dan beliau memiliki karamah-karamah yang aneh dan peninggalan-peninggalan yang mengagumkan, berkuasa selama 31 tahun, sampai akhirnya meninggal pada tahun 886 H. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memuji beliau dan tentara beliau, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al Bazzar, at-Thabarani, al Hakim dengan sanad yang shahih: لتفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش Maknanya: "Konstantinopel akan ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang berhasil menaklukkannya, dan sebaik-baik bala tentara adalah bala tentara yang menaklukkannya". Dan konstantinopel akhirnya takluk setelah lewat 900 tahun dari meninggalnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, di tangan sulthan Muhammad al Fatih al Maturidi –semoga Allah merahmatinya- dan beliau adalah seorang penganut ajaran sunni, meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat, mencintai kaum shufi yang lurus, dan bertawassul dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Sulthan Shalahuddin : Dilahirkan pada tahun 532 H, beliau –semoga Allah merahmati beliau- seorang penganut Madzhab Asy'ari dalam aqidah dan pengamal Mazhab Syafi'I dalam fiqih, seorang yang berilmu, shalih, dan mutawadli' (rendah hati), wara', beragama, bersahaja (zuhud), sangat rajin untuk shalat berjama'ah, tekun dalam melaksanakan amalan-amalan sunnah dan shalat malam, memperbanyak dzikir, senang mendengar bacaan al Qur'an, hatinya khusyu', banyak meneteskan air mata (karena sedih meratapi kekurangannya), teman yang pengasih, lemah lembut dan suka memberi nasehat, adil, menyayangi rakyatnya, belas kasihan dan suka menolong kepada orang-orang yang dizhalimi dan orang-orang yang lemah, pemberani, pemurah, penyabar, akhlaqnya mulia, hafal al Qur'an, hafal kitab Tanbih dalam fiqih Syafi'i, banyak bertalaqqi hadits-hadits, selalu berdo'a kepada Allah dan tidak membuatnya gentar -dalam berjuang di jalan yang diridloi Allah- celaan orang yang mencela. Wilayah kekuasaannya dari ujung Yaman sampai Maushil, dari Tripoli barat sampai Naubah, diserahi tampuk pemerintahan untuk seluruh daerah syam, Yaman dan cakupannya seperti Emirat, Qatar, Bahrain, Oman, juga seluruh Hijaz, seluruh daerah di Mesir, banyak membangun dan menyemarakkan masjid-masjid dan madrasah-madrasah, menyemarakkan benteng di gunung, pagar di Kairo, membangun Kubah makam Imam Syafi'i, menghapus penarikan pajak, membuka sekitar tujuh puluh lebih kota dan benteng-benteng, membebaskan Quds (palestina) dan menyucikannya setelah dikuasai selama 90 tahun oleh orang-orang kafir. Wafat pada tahun 589 H, pada saat meninggal beliau berumur 57 tahun, dan tidak mewariskan kekuasaan ataupun tanah. Di antara manaqib-manaqibnya: Beliau memerintahkan pada muadzin untuk mengumandangkan aqidah al Mursyidahdiatas menara menjelang shubuh dan para muadzin pun melaksanakannya di setiap malam diseluruh masjid– masjid jami', kebiasaan itupun berlanjut sekitar 400 tahun lebih. Sejarawan Taqiyuddin al–Maqrizi (w.845H)dalam kitabnya al Mawaizh Wal I'tibath Bidzikril Alkhithoti Wal Atsar berkata: "Ketika Sultan Shalahuddin Yusuf bin Ayyub diserahijabatan pemerintahan,beliau mengeluarkan satu perintah kepada para muadzin untuk mengumandangkan di atas menara–menara pada malam hari menjelang shubuh pembacaan aqidah yang dikenal dengan al Aqidah al Mursidah dan selanjutnya para muadzin melaksanakan secara terus menerus perintah itu dengan membacakan kitab aqidah tersebut di setiap malam di seluruh masjid jami' di Mesir sampai sekarang. al Hafidz Jalaluddin as-Suyuti (w. 911 H)dalam kitabnya al Wasail ila Ma'rifat al Awail: "Ketika Sultan Shalahuddin Yusuf bin Ayyub diserahi pemerintahan,beliau membuat satu perintah kepada para muadzin untuk mengumandangkan di atas menara–menara pada malam hari menjelang shubuh pembacaan aqidah yang dikenal dengan al Aqidah al Mursyidahdan selanjutnya para muadzin melaksanakan secara terus menerus perintah itu dengan membacakan kitab aqidah tersebut di setiap malam di selruh masjid jami' di Mesir sampai sekarang". Al a'lamah al Muhammad ibn A'lan ash-Shidiqi as-Syafi'i (w. 157 H)dalam kitabnya al Futuhat ar-Rabbaniyah a'la al Adzkar an-Nawawiyah berkata: "Ketika Shalahuddin ibn Ayub diserahi jabatan pemerintahan dan beliau menghimbau masyarakat untuk teguh mempertahankan aqidah Asy'ari, beliau memerintahkan kepada para muadzin untuk mengumandangkan aqidah asy'ariyah yang di kenal dengan sebutan al Aqidah al Mursyidah,dan mereka terus menjalankan perintah itu dan membacakan aqidah ini setiap malamnya sebelum shubuh". Dalam kitab Thabaqat asy-Syafi'iyah Tajuddin sa-Subki mengatakan bahwa Syekh Fahruddin ibn Asakir mengajarkan al Aqidah al Mursyidah . Di Damaskus al Hafidz Shalahuddin al A'la'i (W.761.H) sebagaimana dinukil oleh as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi'iyahberkata dan al Aqidah al Mursyidah ini pengarangnya benar–benar berada di jalan yang lurus dan dia telah benar dalam mensucikan Allah yang maha agung. Tajuddin as-Subki (w.771H)dalam kitabnya Mu'id an-Nia'am waMubid an-Niqam mengatakan: "Aqidah Asy'ari ialah aqidah yang terdapat pada kitab aqidah karya Abu Ja'far ath-Thahawi,Aqidah Abu al Qasim al Qusyairi, dan aqidah yang terkenal yang bernama al Aqidah al Mursyidahke empat–empatnya sama-sama meyakini dasar-dasar aqidah Ahlussunnah wal Jamaah. Imam Muhammad ibn Yusuf as-Sanusi (w.895H)dalam Syarahnya: "al Aqidah al Mursyidah yang dinamakan dengan alAnwar al Mubayyinah li Ma'ani I'qdi al Aqidah al Mursyidahbersepakat para imam-imam atas kebenaran aqidah ini dan aqidah ini adalah aqidah mursyidah rosyidah.

Kamis, 12 Juli 2012

Membantah Pembagian Tauhid Jadi 3 (Trinitas) dengan Dalil-dalil Shahih

Bicara mengenai Pembagian Tauhid Jadi Tiga yaitu Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Rububiyyah, Tauhid Asma Wa Sifat, di blog Ummati Press (http://ummatipress.com/2011/05/31/membantah-pembagian-tauhid-jadi-3-trinitas-wahabi-dengan-dalil-dalil-shahih/)……..Pernah terjadi diskusi panjang. Diskusi antara akhi @Dufal (Wahabi) dengan Mas Baihaqi dan dilanjut berikutnya antara Mas Joyo Marto dengan akhi @Abu Fathul (Wahabi). Inti yang ingin disampaikan oleh Mas Baihaqi dan Mas Joyo Marto dalam diskusi tersebut adalah bahwa pembagian Tauhid Jadi 3 itu tidak memiliki dalil sama sekali.

Oleh karena itu pembagian tersebut masuk dalam kategori bid’ah dholalah. Bahkan dalam diskusi tersebut disinyalir ada kemiripan antara ajaran Tauhid 3 dengan ajaran Trinitas Kristen dalam segi definisinya. Akhi @Dufal mendifinisikan bahwa Tauhid 3 adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan yang berarti seseorang tidak disebut bertauhid jika salah satu dari unsur ketiga tauhid tersebut tidak ada dalam dirinya. Hal ini secara sepintas tampak seperti kebenaran, akan tetapi sangat membingungkan sebab bagi Ummat Islam otomatis akan menganggap Rabb (Tuhan Pencipta-Pengatur) adalah sekaligus Ilah (Tuhan satu-satunya yang wajib kita beribadah kepada-NYA).

Lalu apakah benar ada kemiripan dengan ajaran Trinitas Kristen jika ditinjau dari segi definisinya? Mari kita lihat, sebenarnya konsep Trinitas Kristen pun merupakan doktrin gereja yang sangat kontroversial sepanjang sejarah. Kontroversial konsep Trinitas dimulai sejak awal diperkenalkannya doktrin tersebut. Definisi Trinitas adalah kesatuan dari tiga yang tak terpisahkan, lihatlah persamaannya dengan definisi Tauhud Tiga di atas.Trinitas dalam Kristen adalah Tiga Tuhan yakni Tuhan Allah (tuhan bapa), tuhan Yesus dan tuhan Roh Kudus dan ketiganya adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Artinya, dalam ajaran Kristen tidak disebut tuhan jika “kurang” salah satu dari ketiga unsur tersebut.

Bagaimana duduk persoalan mengenai Pembagian Tauhid 3, apakah hal tersebut termasuk kebenaran ataukah kebatilan? Silahkan simak presentasi ilmiyah yang disampaikan oleh Abu Fateh berikut ini….

Membongkar Kesesatan Ajaran Wahabi Yang Membagi Tauhid kepada 3 Bagian; Aqidah Mereka Ini Nyata Bid’ah Sesat

oleh: Abou Fateh

(AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT )

Pendapat kaum Wahabi yang membagi tauhid kepada tiga bagian; tauhid Ulûhiyyah, tauhid Rubûbiyyah, dan tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât adalah bid’ah batil yang menyesatkan.Pembagian tauhid seperti ini sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, hadits, dan tidak ada seorang-pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut. Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang; merekamengaku datang untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah.

Di antara dasar yang dapat membuktikan kesesatan pembagian tauhid ini adalah sabda Rasulullah:
أمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتىّ يَشْهَدُوْا أنْ لاَ إلهَ إلاّ اللهُ وَأنّيْ رَسُوْل اللهِ، فَإذَا فَعَلُوْا ذَلكَ عُصِمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وأمْوَالَهُمْ إلاّ بِحَقّ (روَاه البُخَاريّ


“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (Ilâh) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah. Jika mereka melakukan itu maka terpelihara dariku darah-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali karena hak”. (HR al-Bukhari).

Dalam hadits ini Rasulullah tidak membagi tauhid kepada tiga bagian, beliau tidak mengatakan bahwa seorang yang mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh” saja tidak cukup untuk dihukumi masuk Islam, tetapi juga harus mengucapkan “Lâ Rabba Illallâh”. Tetapi makna hadits ialah bahwa seseorang dengan hanya bersaksi dengan mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh”, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah maka orang ini telah masuk dalam agama Islam (ber-tauhid). Hadits ini adalah hadits mutawatir dari Rasulullah, diriwayatkan oleh sejumlah orang dari kalangan sahabat, termasuk di antaranya oleh sepuluh orang sahabat yang telah medapat kabar gembira akan masuk ke surga. Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Imâm al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

Tujuan kaum Musyabbihah membagi tauhid kepada tiga bagian ini adalah tidak lain hanya untuk mengkafirkan orang-orang Islam ahli tauhid yang melakukan tawassul dengan Nabi Muhammad, atau dengan seorang wali Allah dan orang-orang saleh. Mereka mengklaim bahwa seorang yang melakukan tawassul seperti itu tidak mentauhidkan Allah dari segi tauhid Ulûhiyyah. Demikian pula ketika mereka membagi tauhid kepada tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât, tujuan mereka tidak lain hanya untuk mengkafirkan orang-orang yang melakukan takwil terhadap ayat-ayat Mutasyâbihât. Oleh karenanya, kaum Musyabbihah ini adalah kaum yang sangat kaku dan keras dalam memegang teguh zhahir teks-teks Mutasyâbihât dan sangat “alergi” terhadap takwil. Bahkan mereka mengatakan: “al-Mu’aw-wil Mu’ath-thil”; artinya seorang yang melakukan takwil sama saja dengan mengingkari sifat-sifat Allah.Na’ûdzu Billâh.

Dengan hanya hadits shahih di atas, cukup bagi kita untuk menegaskan bahwa pembagian tauhid kepada tiga bagian di atas adalah bid’ah batil yang dikreasi oleh orang-orang yang mengaku memerangi bid’ah yang sebenarnya mereka sendiri ahli bid’ah. Bagaimana mereka tidak disebut sebagai ahli bid’ah, padahal mereka (wahabi) membuat ajaran tauhid yang sama sekali tidak pernah dikenal oleh orang-orang Islam?! Di mana logika mereka, ketika mereka mengatakan bahwa tauhid Ulûhiyyah saja tidak cukup, tetapi juga harus dengan pengakuantauhid Rubûbiyyah?! Bukankah ini berarti menyalahi hadits Rasulullah di atas?! Dalam hadits di atas sangat jelas memberikan pemahaman kepada kita bahwa seorang yang mengakui ”Lâ Ilâha Illallâh” ditambah dengan pengakuan kerasulan Nabi Muhammad maka cukup bagi orang tersebut untuk dihukumi sebagai orang Islam (Ahli Tauhid).

Dan ajaran inilah yang telah dipraktekan oleh Rasulullah ketika beliau masih hidup. Apa bila ada seorang kafir bersaksi dengan ”Lâ Ilâha Illallâh” dan ”Muhammad Rasûlullâh” maka oleh Rasulullah orang tersebut dihukumi sebagai seorang muslim yang beriman (beriman). Kemudian Rasulullah memerintahkan kepadanya untuk melaksanakan shalat sebelum memerintahkan kewajiban-kewajiban lainnya; sebagaimana hal ini diriwayatkan dalam sebuah hadits oleh al-Imâm al-Bayhaqi dalam Kitâb al-I’tiqâd. Sementara kaum Musyabbihah di atas membuat ajaran baru; mengatakan bahwa tauhid Ulûhiyyah saja tidak cukup, ini sangat nyata telah menyalahi apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Mereka tidak paham bahwa ”Ulûhiyyah” itu sama saja dengan ”Rubûbiyyah”, bahwa ”Ilâh” itu sama saja artinya dengan ”Rabb”.

Kemudian kita katakan pula kepada mereka; Di dalam banyak hadits diriwayatkan bahwa di antara pertanyaan dua Malaikat; Munkar dan Nakir yang ditugaskan untuk bertanya kepada ahli kubur adalah: ”Man Rabbuka?”. Tidak bertanya dengan ”Man Rabbuka?” lalu diikutkan dengan ”Man Ilahuka?”. Lalu seorang mukmin ketika menjawab pertanyaan dua Malaikat tersebut cukup dengan hanya berkata ”Allâh Rabbi”, tidak harus diikutkan dengan ”Allâh Ilâhi”. Malaikat Munkar dan Nakir tidak membantah jawaban orang mukmin tersebut dengan mengatakan: ”Kamu hanya mentauhidkan tauhid Rubûbiyyah saja, kamu tidak mentauhidkan tauhid Ulûhiyyah!!”. Inilah pemahaman yang dimaksud dalam hadits Nabi tentang pertanyaan dua Malaikat dan jawaban seorang mukmin dikuburnya kelak. Dengan demikian kata ”Rabb” sama saja dengan kata ”Ilâh”, demikian pula ”tauhid Ulûhiyyah” sama saja dengan ”tauhid Rubûbiyyah”.

Dalam kitab Mishbâh al-Anâm, pada pasal ke dua, karya al-Imâm Alawi ibn Ahmad al-Haddad, tertulis sebagai berikut:

”Tauhid Ulûhiyyah masuk dalam pengertian tauhid Rubûbiyyah dengan dalil bahwa Allah telah mengambil janji (al-Mîtsâq) dari seluruh manusia anak cucu Adam dengan firman-Nya ”Alastu Bi Rabbikum?”. Ayat ini tidak kemudian diikutkan dengan ”Alastu Bi Ilâhikum?”. Artinya; Allah mencukupkannya dengan tauhid Rubûbiyyah, karena sesungguhya sudah secara otomatis bahwa seorang yang mengakui ”Rubûbiyyah” bagi Allah maka berarti ia juga mengakui ”Ulûhiyyah” bagi-Nya. Karena makna ”Rabb” itu sama dengan makna ”Ilâh”. Dan karena itu pula dalam hadits diriwayatkan bahwa dua Malaikat di kubur kelak akan bertanya dengan mengatakan ”Man Rabbuka?”, tidak kemudian ditambahkan dengan ”Man Ilâhuka?”. Dengan demikian sangat jelas bahwa makna tauhid Rubûbiyyah tercakup dalam makna tauhid Ulûhiyyah.

Di antara yang sangat mengherankan dan sangat aneh adalah perkataan sebagian pendusta besar terhadap seorang ahli tauhid; yang bersaksi ”Lâ Ilâha Illallâh, Muhammad Rasulullah”, dan seorang mukmin muslim ahli kiblat, namun pendusta tersebut berkata kepadanya: ”Kamu tidak mengenal tahuid. Tauhid itu terbagi dua; tauhid Rubûbiyyah dan tauhid Ulûhiyyah. Tauhid Rubûbiyyah adalah tauhid yang telah diakui oleh oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Sementara tauhid Ulûhiyyah adalah adalah tauhid murni yang diakui oleh orang-orang Islam. Tauhid Ulûhiyyah inilah yang menjadikan dirimu masuk di dalam agama Islam. Adapun tauhid Rubûbiyyah saja tidak cukup”. Ini adalah perkataan orang sesat yang sangat aneh. Bagaimana ia mengatakan bahwa orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sebagai ahli tauhid?! Jika benar mereka sebagai ahli tauhid tentunya mereka akan dikeluarkan dari neraka kelak, tidak akan menetap di sana selamanya, karena tidak ada seorangpun ahli tauhid yang akan menetap di daam neraka tersebut sebagaimana telah diriwayatkan dalam banyak hadits shahih.

Adakah kalian pernah mendengar di dalam hadits atau dalam riwayat perjalanan hidup Rasulullah bahwa apa bila datang kepada beliau orang-orang kafir Arab yang hendak masuk Islam lalu Rasulullah merinci dan menjelaskan kepada mereka pembagian tauhid kepada tauhid Ulûhiyyah dan tauhid Rubûbiyyah?! Dari mana mereka mendatangkan dusta dan bohong besar terhadap Allah dan Rasul-Nya ini?! Padalah sesungguhnya seorang yang telah mentauhidkan ”Rabb” maka berarti ia telah mentauhidkan ”Ilâh”, dan seorang yang telah memusyrikan ”Rabb” maka ia juga berarti telah memusyrikan ”Ilâh”. Bagi seluruh orang Islam tidak ada yang berhak disembah oleh mereka kecuali ”Rabb” yang juga ”Ilâh” mereka. Maka ketika mereka berkata ”Lâ Ilâha Illallâh”; bahwa hanya Allah Rabb mereka yang berhak disembah; artinya mereka menafikan Ulûhiyyah dari selain Rabb mereka, sebagaimana mereka menafikan Rubûbiyyah dari selain Ilâh mereka. Mereka menetapkan ke-Esa-an bagi Rabb yang juga Ilâh mereka pada Dzat-Nya, Sifat-sifat-Nya, dan pada segala perbuatan-Nya; artinya tidak ada keserupaan bagi-Nya secara mutlak dari berbagai segi”.

(Masalah): Para ahli bid’ah dari kaum Musyabbihah biasanya berkata: ”Sesungguhnya para Rasul diutus oleh Allah adalah untuk berdakwah kepada umatnya terhadap tauhid Ulûhiyyah; yaitu agar mereka mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Adapun tauhid Rubûbiyyah; yaitu keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam ini, dan bahwa Allah adalah yang mengurus segala peristiwa yang terjadi pada alam ini, maka tauhid ini tidak disalahi oleh seorang-pun dari seluruh manusia, baik orang-orang musyrik maupun orang-orang kafir, dengan dalil firman Allah dalam QS. Luqman:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ


“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)

(Jawab): Perkataan mereka ini murni sebagai kebatilan belaka. Bagaimana mereka berkata bahwa seluruh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sama dengan orang-orang mukmin dalam tauhid Rubûbiyyah?! Adapun pengertian ayat di atas bahwa orang-orang kafir mengakui Allah sebagai Pencipta langit dan bumi adalah pengakuan yang hanya di lidah saja, bukan artinya bahwa mereka sebagai orang-orang ahli tauhid; yang mengesakan Allah dan mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Terbukti bahwa mereka menyekutukan Allah, mengakui adanya tuhan yang berhak disembah kepada selain Allah. Mana logikanya jika orang-orang musyrik disebut sebagai ahli tauhid?! Rasulullah tidak pernah berkata kepada seorang kafir yang hendak masuk Islam bahwa di dalam Islam terdapat dua tauhid; Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah! Rasulullah tidak pernah berkata kepada seorang kafir yang hendak masuk Islam bahwa tidak cukup baginya untuk menjadi seorang muslim hanya bertauhid Rubûbiyyah saja, tapi juga harus bertauhid Ulûhiyyah! Oleh karena itu di dalam al-Qur’an Allah berfirman tentang perkataan Nabi Yusuf saat mengajak dua orang di dalam penjara untuk mentauhidkan Allah:
يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

”Adakah rabb-rabb yang bermacam-macam tersebut lebih baik ataukah Allah (yang lebih baik) yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan yang maha menguasai?!” (QS. Yusuf: 39).

Dalam ayat ini Nabi Yusuf menetapkan kepada mereka bahwa hanya Allah sebagai Rabb yang berhak disembah.

Perkataan kaum Musyabbihah dalam membagi tauhid kepada dua bagian, dan bahwa tauhid Ulûhiyyah (Ilâh) adalah pengakuan hanya Allah saja yang berhak disembah adalah pembagian batil yang menyesatkan, karena tauhid Rubûbiyyah adalah juga pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, sebagaimana yang dimaksud oleh ayat di atas. Dengan demikian Allah adalah Rabb yang berhak disembah, dan juga Allah adalah Ilâh yang berhak disembah. Kata “Rabb” dan kata “Ilâh” adalah kata yang memiliki kandungan makna yang sama sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Imâm Abdullah ibn Alawi al-Haddad di atas.

Dalam majalah Nur al-Islâm, majalah ilmiah bulanan yang diterbitkan oleh para Masyâyikh al-Azhar asy-Syarif Cairo Mesir, terbitan tahun 1352 H, terdapat tulisan yang sangat baik dengan judul “Kritik atas pembagian tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah” yang telah ditulis oleh asy-Syaikh al-Azhar al-‘Allamâh Yusuf ad-Dajwi al-Azhari (w 1365 H), sebagai berikut:

[[“Sesungguhnya pembagian tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah adalah pembagian yang tidak pernah dikenal oleh siapapun sebelum Ibn Taimiyah. Artinya, ini adalah bid’ah sesat yang telah ia munculkannya. Di samping perkara bid’ah, pembagian ini juga sangat tidak masuk akal; sebagaimana engkau akan lihat dalam tulisan ini. Dahulu, bila ada seseorang yang hendak masuk Islam, Rasulullah tidak mengatakan kepadanya bahwa tauhid ada dua macam. Rasulullah tidak pernah mengatakan bahwa engkau tidak menjadi muslim hingga bertauhid dengan tauhid Ulûhiyyah (selain Rubûbiyyah), bahkan memberikan isyarat tentang pembagian tauhid ini, walau dengan hanya satu kata saja, sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Demikian pula hal ini tidak pernah didengar dari pernyataan ulama Salaf; yang padahal kaum Musyabbihah sekarang yang membagi-bagi tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah tersebut mengaku-aku sebagai pengikut ulama Salaf. Sama sekali pembagian tauhid ini tidak memiliki arti.

Adapun firman Allah:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ (لقمان: 25)

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)
Ayat ini menceritakan perkataan orang-orang kafir yang mereka katakan hanya di dalam mulut saja, tidak keluar dari hati mereka. Mereka berkata demikian itu karena terdesak tidak memiliki jawaban apapun untuk membantah dalil-dalil kuat dan argumen-argumen yang sangat nyata (bahwa hanya Allah yang berhak disembah). Bahkan, apa yang mereka katakan tersebut (pengakuan ketuhanan Allah) ”secuil”-pun tidak ada di dalam hati mereka, dengan bukti bahwa pada saat yang sama mereka berkata dengan ucapan-ucapan yang menunjukan kedustaan mereka sendiri. Lihat, bukankah mereka menetapkan bahwa penciptaan manfaat dan bahaya bukan dari Allah?! Benar, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah. Dari mulai perkara-perkara sepele hingga peristiwa-peristiwa besar mereka yakini bukan dari Allah, bagaimana mungkin mereka mentauhidkan-Nya?! Lihat misalkan firman Allah tentang orang-orang kafir yang berkata kepada Nabi Hud:

إِن نَّقُولُ إِلاَّ اعْتَرَاكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ (هود: 54)

”Kami katakan bahwa tidak lain engkau telah diberi keburukan atau dicelakakan oleh sebagian tuhan kami” (QS. Hud: 54).

Sementara Ibn Taimiyah berkata bahwa dalam keyakinan orang-orang musyrik tentang sesembahan-sesembahan mereka tersebut tidak memberikan manfaat dan bahaya sedikit-pun. Dari mana Ibn Taimiyah berkata semacam ini?! Bukankah ini berarti ia membangkang kepada apa yang telah difirmankah Allah?! Anda lihat lagi ayat lainnya dari firman Allah tentang perkataan-perkataan orang kafir tersebut:

وَجَعَلُوا للهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَاْلأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا للهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَآئِنَا فَمَاكَانَ لِشُرَكَآئِهِمْ فَلاَيَصِلُ إِلَى اللهِ وَمَاكَانَ للهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَآئِهِمْ (الأنعام: 136)

”Lalu mereka berkata sesuai dengan prasangka mereka: ”Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka sajian-sajian yang diperuntukan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukan bagi Allah maka sajian-sajian tersebut sampai kepada berhala mereka” (QS. al-An’am: 136).
Lihat, dalam ayat ini orang-orang musyrik tersebut mendahulukan sesembahan-sesembahan mereka atas Allah dalam perkara-perkara sepele.

Kemudian lihat lagi ayat lainnya tentang keyakinan orang-orang musyrik, Allah berkata kepada mereka:

و َمَانَرَى مَعَكُمْ شُفَعَآءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاؤُا (الأنعام: 94)

”Dan Kami tidak melihat bersama kalian para pemberi syafa’at bagi kalian (sesembahan/berhala) yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu tuhan di antara kamu”(QS. al-An’am: 94).
Dalam ayat ini dengan sangat nyata bahwa orang-orang kafir tersebut berkeyakinan bahwa sesembahan-sesembahan mereka memberikan mafa’at kepada mereka. Itulah sebabnya mengapa mereka mengagung-agungkan berhala-berhala tersebut.

Lihat, apa yang dikatakan Abu Sufyan; ”dedengkot” orang-orang musyrik di saat perang Uhud, ia berteriak: ”U’lu Hubal” (maha agung Hubal), (Hubal adalah salah satu berhala terbesar mereka). Lalu Rasulullah menjawab teriakan Abu Sufyan: ”Allâh A’lâ Wa Ajall” (Allah lebih tinggi derajat-Nya dan lebih Maha Agung).

Anda pahami teks-teks ini semua maka anda akan paham sejauh mana kesesatan mereka yang membagi tauhid kepada dua bagian tersebut!! Dan anda akan paham siapasesungguhnya Ibn Taimiyah yang telah menyamakan antara orang-orang Islam ahli tauhid dengan orang-orang musyrik para penyembah berhala tersebut, yang menurutnya mereka semua sama dalam tauhid Rubûbiyyah!” ].

Kamis, 05 Juli 2012

Bosan dgn Salafi ???


Apakah Salafy Itu?

Apakah Salafy Merupakan Aliran Sesat Dalam Islam?

            Beberapa orang baik dari kalangan muslim maupun non muslim seringkali menanyakan hal ini. Sebenarnya tidak ada yang salah dari Salafy, karena Salafy hanyalah julukan sebuah gerakan yang bertujuan menjalankan ajaran Islam sesuai cara cara yang dicontohkan oleh orang orang salaf. Tetapi fenomena sejarah menunjukkan bahwa hampir setiap gerakan mengalami distorsi dari gagasan awalnya, dan Salafy adalah salah satunya. Itu sebabnya sekarang ini makin mudah dijumpai tokoh maupun pengikut Salafy dalam banyak hal bukannya menunjukkan perilaku kaum salaf, tetapi malah lebih mirip tabiat kaum Khawarij, yang kontraproduktif terhadap perkembangan Islam secara umum. Kenapa demikian?

Apa Itu Salafy

Kata salaf merupakan kependekan dari salafus shalih (kaum shalih yang terdahulu), yang merupakan julukan atas tiga generasi awal umat Islam, yaitu generasi sahabat, tabiin dan tabiit tabiin. Pokok ajaran dari ideologi dasar Salafi adalah bahwa Islam telah sempurna dan selesai pada waktu masa Muhammad dan sahabat-sahabatnya, oleh karena itu tidak dikehendaki inovasi yang telah ditambahkan pada abad nanti karena material dan pengaruh budaya. Paham ideologi Salafi berusaha untuk menghidupkan kembali praktek Islam yang lebih mirip agama Muhammad selama ini.


Ulama Rujukan Kelompok Salafy
Dewasa ini kelompok yang menamakan dirinya salafy merujuk pada pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab (Wahabiyah), Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha. Keempat Ulama tersebut dikenal sebagai ulama ulama yang paling puritan yang gigih memperjuangkan kemurnian Islam. Tentu saja hal ini tak lepas dari kondisi umat Islam di masa itu, dimana banyak beredar hadits hadits palsu yang pada tingkat tertentu sudah diyakini oleh masyarakat sebagai bagian dari ajaran pokok Islam.


Kesalahan Tokoh dan Pengikut Salafy
Gerakan Salafy adalah gerakan yang secara gagasan sangat baik, tetapi dalam perkembangannya kerapkali membuat keresahan dikalangan umat Islam, dan cenderung merusak persaudaraan dan keutuhan umat. Penyebab utamanya adalah kebanggaan yang berlebihan atas pendapat kelompok dan sikap meremehkan pendapat kelompok lain.
Satu hal fatal yang masuk dalam pikiran tokoh dan pengikut mereka adalah anggapan bahwa "Hanya kelompok salafy lah yang benar benar mencontoh nabi. Semua orang di luar salafy tidak mau mencontoh nabi" Padahal kita tahu bahwa orang orang di luar mereka juga mengajarkan hal yang sama yaitu menjalankan Islam sesuai Quran dan sunnah Nabi.
Artinya semua muslimin dari kelompok manapun adalah salafy, bukan cuma yang memakai nama salafy saja.


Kelompok Salafy Lebih Mirip Khawarij
Salah satu ciri kecerdasan seseorang adalah kemampuan membedakan yang benar dari yang salah. Banyaknya data yang disimpan dalam otak dapat dioptimalkan untuk memutuskan dengan tepat tingkat kebenaran suatu pendapat dengan proporsi yang tepat. Munculnya kaum Khawarij adalah pelajaran berharga buat kita, betapa pemikiran puritanis seringkali terjebak dalam pembatasan yang berlebihan.
Sedikitnya ada dua hal yang membuat kelompok salafy lebih mirip Khawarij ketimbang kaum Salafus Shalih

1.Keinginan yang sangat kuat untuk menjalankan Islam secara murni sesuai aslinya tidak diimbangi dengan akhlak dan kemampuan berpikir yang memadai. Hal ini menyebabkan isu dakwah yang mereka sampaikan lebih cenderung meresahkan. Jangankan buat non muslim, dikalangan muslim saja menimbulkan permusuhan. padahal para salafus shalih dikenal sebagai kaum yang meskipun secara ide berbeda dengan kaum yahudi dan nashrani namun dalam urusan urusan bernegara dan bertetangga mereka adalah orang orang yang paling disukai oleh masyarakat. Artinya : Kaum salaf dahulu selain berilmu menguasai betul Al Quran juga melengkapi diri dengan akhlak bermuamalah yang sangat baik sehingga baik kawan maupun lawan sangat mudah menerima kehadiran dan keberadaan mereka di masyarakat, sedangkan kelompok salafy hanya mampu menda'wakan diri sebagai berilmu ditambah akhlak buruk mereka dalam bermuamalah (merasa hanya merekalah yang salaf, diluar mereka bid'ah),..akibatnya orang orang diluar kelompok mereka jadi eneg, sebal, kesel dsb. Keberadaan mereka sulit diterima bahkan oleh sesama muslim sekalipun.

2 Seringkali mereka menyebut bahwa ulama ulama yang memperjuangkan Islam dengan cara berbeda dari apa yang mereka yakini, sebagai ulama palsu sembari menyebarkan fitnah atas mereka. Mereka mengaku tidak mengutamakan ketokohan karena yang menjadi tokoh salafy adalah Nabi Muhammad, padahal mereka mengatakan demikian itu berdasarkan omongan tokoh mereka yang tak mau disebut namanya itu. Jadi aneh bukan?

Nah dua hal diatas benar benar membuat Salafy pas banget dengan ciriciri Khawarij yang merupakan cikal bakal ekstrimitas pemikiran Islam pertama yang muncul dari kalangan orang orang yang kurang memadai dalam berpikir


Siapa Yang Mudah Terjebak dalam Kelompok Salafy?

            Yang biasanya paling mudah masuk dalam kelompok salafy adalah orang orang yang semangat keislamannya sedang menanjak tetapi kemampuan berpikirnya kurang ditambah dengan penguasaan sejarah Islam yang minim. orang orang demikian ini dengan mudah terpesona oleh pendakwah salafy yang gemar mempertontonkan kepandaian melantunkan hadits, mempresentasikan ayat quran dengan gaya pemikir dan fuqaha yang seakan akan kaliber dunia. Ketika pendakwah salafy itu mengatakan ulama A B C D dst sebagai ulama bid ah, sedangkan ulama X Y Z sebagai ulama salaf, maka orang orang kurang akal tadi meyakini bahwa itu adalah kebenaran, dikarenakan pengetahuan sejarah dan wawasan yang sangat kurang


Bagaimana Agar Tidak Mudah Terjebak Dalam Kelompok Salafy?

              Sebenarnya sangat mudah. Yang pertama, kita harus sadar bahwa banyak saudara kita kaum muslimin yang berada diluar kelompok salafy, yang sebenarnya lebih salaf dibandingkan mereka. Kaum muslimin diluar salafy yang memiliki sifat sifat salaf tersebut tidak pernah menda'wakan diri mereka sebagai salaf dan tidak pula mengklaim orang diluar mereka sebagai orang yang tidak salaf. Dan kita akan tahu dari sejarah, memang orang orang berakhlak mulia yang sebenarnya memang tidak pernah menda'wakan diri sebagai orang mulia, sebaliknya, kalau ada orang mengaku dirinya mulia tentu kita wajib bertanya bukan?
Yang Kedua, Jangan pernah terpesona dengan gaya ceramah seseorang yang tampak menguasai hadits, quran, fasih berbahasa arab, dan embel embel tampilan luar yang mirip ahli fikih atau ahli filsafat islam. Kita harus tau bahwa diluar salafy berjibun orang seperti itu. Ada satu kiat untuk memastikan apakah orang tersebut layak didengar dan diikuti kuliahnya atau tidak. Perhatikan betul pembicaraannya. Dengan penglihatan yang cermat kita akan tahu,... kalau arah bicaranya terlihat menonjolkan kepintaran dirinya, ditambah dengan celaan (kasar maupun halus) terhadap tokoh di luar kelompoknya,... saat itulah kita harus waspada,.. dia itulah orang yang lebih mirip Khawarij ketimbang kaum salaf. Karena Kaum salaf tidak pernah memuji diri sendiri apalagi mencela orang lain.

Demikian tulisan ini, jika ada simpatisan salafy atau tokoh salafy yang kurang berkenan silakan komplain.

Apakah Al-Qur’an hanya bisa diartikan secara tekstual atau literal ?




Begitulah kelompok Salafi/Wahabi ini percaya bahwa Al-Qur’an dan Sunnah hanya bisa diartikan secara tekstual (apa adanya tekst) atau literal dan tidak ada arti majazi atau kiasan didalamnya. Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi, yang mana kata-kata Allah swt. harus diartikan sesuai dengannya. Jika kita tidak dapat membedakan diantara keduanya maka kita akan menjumpai beberapa kontradiksi yang timbul didalam Al-Qur’an. Maka dari itu sangatlah penting untuk memahami masalah tersebut. Dengan adanya keyakinan seluruh kandungan Al-Qur’an dan Sunnah secara tekstual atau literal dan jauh dari makna Majazi atau kiasan ini, maka akibatnya mereka memberi sifat secara fisik kepada Allah swt.. (umpama Dia swt. mempunyai tangan, kaki, mata dan lain-lain seperti makhluk-Nya). Mereka juga mengatakan terdapat kursi yang sangat besar (‘Arsy) dimana Allah swt.. duduk (sehingga Dia membutuhkan ruangan atau tempat untuk duduk) diatasnya. Terdapat banyak masalah lainnya yang diartikan secara tekstual. Hal ini telah membuat banyak fitnah diantara ummat Islam dan inilah yang paling pokok dari mereka yang membuat berbeda dari Madzhab yang lain. Salafisme ini hanya berjalan atas tiga komposisi yaitu; Syirik, Bid’ah dan Haram.

Mengartikan ayat-ayat Ilahi dan Sunnah secara tekstual, akan secara otomatis menolak atau menyembunyikan bagian dari Al-Qur’an maupun Sunnah yang berlawanan dengan keyakinan mereka. Mereka juga kadangkala kerepotan dan kebingungan untuk menafsirkan ayat-ayat dan hadits Rasulallah saw. yang (kelihatannya) berlawanan dan mencari jalan sedapat mungkin agar yang berlawanan ini sampai sesuai dengan keyakinannya. Umpamanya, mereka mengatakan kita harus langsung minta pertolongan dan pengampunan pada Allah swt. tidak boleh melalui hamba-Nya, dan jika seseorang meminta pertolongan dari Rasulallah saw. atau hamba Allah yang beriman maka orang itu telah Musyrik, dengan berdalil pada Al-Qur’an dan hadits yang tekts atau kalimatnya seperti yang mereka katakan. Kemudian bila mereka membaca ayat Al-Qur’an dan hadits lainnya yang mengatakan Malaikat, para Rasul dan orang-orang yang beriman bisa sebagai penolong dan peminta ampun pada Allah swt., mereka kebingungan lagi untuk menafsirkannya karena ayat ini tidak sefaham dengan akidah mereka yang melarang orang mohon selain kepada Allah swt.. Masih banyak lagi hal-hal serupa yang mereka larang berdasarkan pemahaman ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah saw. secara tekstual, sehingga mereka sering berlawanan dengan pendapatnya sendiri. Jadi disatu sisi mereka mengatakan orang harus langsung minta pada Allah swt. serta tidak boleh melalui hamba-Nya tapi disisi lain mereka mengatakan boleh memohon melalui hamba Allah swt. selama mereka masih hidup serta mampu untuk menolongnya dan sebagainya seperti yang telah dikemukakan tadi.

Jadi tidak lain adalah taktik golongan ini sendiri karena ini adalah cara paling aman bagi mereka untuk menghindari pertentangan yang ada pada paham atau keyakinan mereka. Diantara contoh-contoh dari ayat al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah saw. sebagai berikut:

– Allah swt. berfirman bahwa Dia yang mengambil ruh pada saat kematian, seperti yang tercantum didalam surat Az -Zumaar :42; ‘Allah swt. memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati diwaktu tidurnya…sampai akhir ayat’. Tapi dalam surat An-Nisaa (4):97; ‘Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri…sampai akhir ayat’.

Apakah kalau ada yang mengatakan bahwa malaikatlah yang mencabut nyawa itu syirik? Ataukah kita harus percaya bahwa ada kontradiksi dalam al-Qur’an? Tentu saja tidak, bukan Syirik ataupun kontradiksi, tapi maksudnya bahwa manusia tidak boleh lengah atau lupa bahwa sebab utama yang menentukan nyawa manusia adalah Allah swt.. Sedangkan ayat yang mengatakan bahwa Allah swt. yang mencabut nyawa adalah secara majazi atau kiasan dan malaikat termasuk didalamnya yang mencabut nyawa dengan seizin-Nya.

– Golongan Salafi/Wahabi mengatakan kita harus minta tolong langsung pada Allah swt. tidak boleh melalui hamba-Nya yang beriman dengan berdalil firman Allah swt. diantaranya adalah; Dalam surat Al-Fatihah:5: ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan’. Dengan berdalil dengan ayat ini mereka mengatakan; Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan tidak pula mendatangkan madharat atau bahaya?

Dengan lain kata mereka melarang kita minta tolong kecuali pada Allah swt. Padahal yang dimaksud ayat itu bahwa manusia harus mengetahui dan tidak boleh lengah sebab utama yang mendatangkan pertolongan adalah dari Allah swt. jadi bukan berarti kita tidak boleh minta tolong pada hamba-Nya. Karena kenyataannya terdapat banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulallah saw. yang secara jelas menunjukan bahwa pertolongan atau manfaat bisa dicari dari Rasulallah, dari orang mukminin juga dari mereka yang dikenal sebagai tanda-tanda Allah. Mari kita rujuk ayat-ayat yang berkaitan dengan keterangan diatas ‘hanya Allah-lah’ sebagai pelindung.

Didalam surat An-Nisaa (4) :123: ‘Dialah satu-satunya sebagai pelindung. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah’.

Didalam surat An-Nisaa (4) : 45: ‘Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi penolong ( bagimu)’.

Didalam surat Al-Ahzab (33) : 17; “Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?’ Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah”.

Juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmudzi dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulallah saw. berkata:

إذَا سَألْتَ فَاسْألِ اللهَ, وَإذَا اسْتَعَـنْتَ فَاسْتَتعِنْ بَاللهِ وَاعْلَمْ أنَّ الاُمَّـةَ لَوِ اجْتَمَـعَتْ عَلَى اَنْ يَنْفََـعُوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَنْفَـَعُوكَ إلاَّ بِشَـيْئٍ قَدْ كَتَبهُ

اللهُ لَكَ, وَلَوِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ

Artinya: ‘Jika engkau minta sesuatu mintalah pada Allah dan jika engkau hendak minta pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah seumpama manusia sedunia berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak akan dapat memberi pertolongan, selain apa yang telah disuratkan Allah bagimu. Dan seumpama mereka berkumpul untuk mencelakakan dirimu mereka tidak akan dapat mencelakakanmu selain dengan apa yang telah disuratkan Allah menjadi nasibmu”.

Golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya mengartikan ayat-ayat dan hadits diatas ini secara tekstual, sehingga sampai-sampai berani mensyirikkan orang yang minta tolong atau pelindung pada Rasulallah saw. atau hamba-hamba Allah yang sholeh. Padahal maksud dari ayat dan hadits itu adalah manusia tidak boleh lupa bahwa sebab utama yang melindungi dan menolong manusia adalah Allah swt. Jadi bukan berarti manusia haram untuk minta pertolongan atau pelindungan dari hamba-Nya yang beriman dan meminta syafa’at pada hamba Allah yang diberi izin oleh-Nya.

Bila kita mempunyai paham seperti golongan ini dan mengartikan makna ayat ilahi dan hadits secara tekstual, maka akan kerepotan dan kebingungan mengartikan ayat-ayat ilahi ,berikut ini, dan hadits lainnya yang (kelihatannya) berlawanan dengan ayat dan hadits diatas ini. Marilah kita telaah ayat-ayat ilahi –yang kelihatan berlawanan dengan ayat-ayat diatas tadi– yang mengatakan ‘bukan hanya Allah swt.’ saja yang bisa menolong hamba-Nya:

Dalam surat Al-Maidah (5):55 : “Sesungguhnya penolong kamu (Waliu-kum) adalah Allah, dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk/rukuk (kepada Allah)”.

Dalam surat At-Tahrim (66) : 4: “Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan), dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitupula) Jibril dan orang orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula”.

Dalam surat Al-Maidah (5): 56: “Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah, itulah yang pasti menang”.

Surat An-Nisaa (4) : 75 : ”Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung (waliyan) dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong (nasira) dari sisi Engkau”.

Jadi jelas selain Allah swt. sebagai Pelindung dan Penolong ada hamba- hamba-Nya dengan seizin-Nya juga sebagai Penolong dan Pelindung. Kalau kita baca ayat An- Nisaa: 75 ini manakala Allah sudah cukup sebagai Pelindung (waliyan) dan Penolong (Nasira), kemudian mengapa orang minta kepada Allah supaya orang lain (yang disisi-Nya) menjadi pelindungnya dan penolongnya? Apakah kita benar-benar menyekutukan sesuatu kepada Allah ketika kita percaya bahwa Jibril as, orang beriman dan para malaikat yang juga bisa sebagai Waliyyan (Pelindung) kita dan Naseer (Penolong) bersama-sama dengan Allah? Apakah empat ayat terakhir itu berarti Allah bukan satu-satunya wali (penolong) karena disamping Dia ada wali-wali yang lainnya? Dan apakah ini juga berarti bahwa tidak cukup hanya Dia (Allah swt) sebagai penolong?

Jika kita tetap memakai pengertian Syirik, maka kita secara otomatis dengan membaca ayat-ayatNya telah membuat Allah sendiri Musyrik -Na‘udzubillah- dan begitu pula dengan orang-orang yang percaya terhadap seluruh ayat Al-Qur’an.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim , Abu Dawud dan lainnya bahwa Rasulallah saw. bersabda:

وَاللهُ فِى عَوْنِ العَبْدِ مَاكَانَ العَبْدُ فِى عَوْنِِ أخِيْهِ

Artinya: ‘…Allah menolong hamba-Nya selagi hamba itu mau menolong saudaranya’.

Jadi maksud ayat ilahi yang mengatakan hanya Allah swt. sebagai Penolong atau Pelindung dan hadits yang mengatakan ‘Jika engkau minta sesuatu mintalah…dan hadits Allah menolong..’ diatas ini ialah: Bila kita minta pertolongan dan perlindungan pada Malaikat, Rasulallah saw. dan hamba-Nya kita tidak boleh lupa dan lengah bahwa sebab utama yang mendatangkan pertolongan dan pelindungan adalah Allah swt..Jadi akidahnya adalah: Pada saat Allah berkata bahwa hanya Dialah satu-satunya dan cukuplah hanya Dia sebagai Wali (Penolong/Penjaga) itu maka Malaikat, Rasulallah saw. dan orang orang beriman atas izin-Nya termasuk didalamnya.

Kelompok Salafi, hanya akan menukil ayat-ayat yang mana Allah menyatakan bahwa hanya Dialah sebagai Wali (Penolong). Dengan hanya merujuk ayat-ayat ini –dan mengenyampingkan ayat-ayat lainnya [yang kelihatannya berlawanan] dengan ayat itu– orang Salafi mencoba menciptakan kesan bahwa mempercayai Rasulallah saw. sebagai Wali (Penolong) adalah syirik. Kata-kata Wali dalam al-Qur’an sebanyak tiga puluh empat kali, dalam pengertian bahwa hanya Dia satu-satunya Pelindung, atau jangan ambil Pelindung selain Dia, atau cukuplah Dia sebagai Pelindung. Empat ayat didalam al-Qur’an, Allah saw. telah berkata bahwa Rasulallah, orang-orang beriman dan malaikat juga sebagai wali (penolong) kita.

Kalangan orang Salafi berusaha meyakinkan dirinya bahwa hanya Allah-lah yang bisa dimohoni secara langsung. Dan telah Syirik jika berkeyakinan bahwa Allah mempunyai beberapa perantara antara Dia dan mahluk-Nya. Mereka berkata; Apakah Allah tuli –Na’udzubillah– sehingga Dia tidak bisa mendengar kita secara langsung? Apakah Dia buta sehingga Dia tidak bisa melihat kita? Allah juga mengatakan bahwa tidak ada perantara disamping Dia.

Diantara dalil-dalil yang mereka sebutkan adalah:

‘Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.’ (QS [50] : 16)

‘Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran’. (QS Al-Baqarah :186)

…maka janganlah kamu berdo’a (menyembah) kepada Allah (dengan) menyertakan seseorang’. (QS[72]: 18)

‘Hanya bagi Allah-lah (yang berhak mengabulkan) do’a yang benar. Apa-apa juga yang mereka seru selain Allah tidak akan dapat mengabulkan apapun juga bagi mereka’. (QS Ar Ra’ad :14)

“Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at selain Allah. Katakanlah; ‘Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?”. Katakanlah: ‘Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya lah kamu di kembalikan’ “.(QS Az-Zumar [39]: 43-44).

Marilah sekarang kita teliti ayat-ayat ilahi lainnya yang mengatakan bahwa hamba-Nya yang beriman bisa menjadi perantara dan memberi syafa’at dengan izin-Nya. ‘

Mereka tidak dapat memberi syafa’at, kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian disisi Tuhan yang Maha Pemurah’. (QS.[19] : 87).

‘Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at, akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (baik/benar) dan mereka mengetahuinya (Muhammad saw.) .’ (QS Az Zukhruf [43] : 86)

“Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.(QS [4] : 64)

Ayat An-Nisaa [4] : 64 ini, semua ahli tafsir (Mufassirin) termasuk golongan Salafi/Wahabi setuju bahwa ayat ini diturunkan ketika suatu saat sebagian sahabat melakukan kesalahan yang kemudian mereka sadar atas kesalahannya dan ingin bertaubat. Mereka meminta ampun secara langsung kepada Allah, tapi lihat bagaimana kita memahami firman Allah dalam hal ini:

– Alllah menolak untuk menerima permohonan ampun secara langsung tapi Allah memerintahkan mereka untuk terlebih dahulu mendatangi Rasulallah saw. dan kemudian beliau saw. memintakan ampun kepada Allah swt..

– Allah memerintahkan sahabat untuk bersikap seperti yang di perintahkan, menyertakan Rasulallah saw. dalam permohonan ampun mereka, hanya setelah melakukan ini mereka akan benar-benar mendapat pengampunan dari Yang Maha Penyayang.

Dengan demikian apakah kita menyekutukan Allah ketika berkata bahwa Rasulallah juga dapat memohonkan ampun atau memberi syafa’at atas izin-Nya? Apakah ada kontradiksi dalam al-Qur’an? Sudah tentu tidak. Jadi yang dimaksud adalah sebab utama pemberian ampun dan syafa’at adalah Allah, sedangkan Rasulallah saw. dan orang yang beriman atas izin-Nya termasuk didalamnya. Marikita rujuk lagi ayat-ayat Ilahi mengenai pengampunan melalui hamba-Nya diantaranya:

Surat Ali Imran (3) :159:… “Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka.”

Surat An Nuur (24) : 62: ….maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’

Surat Muhammad (47) : 19: ‘Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu’.

Surat Al-Mumtahanah (60) :12 : “ …, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Surat Al-Munafiquun (63) : 5-6 ; ‘Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasul memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.’

Sebenarnya terdapat sepuluh ayat dalam al-Qur’an yang mana Allah swt. menyatakan bahwa hanya Dialah sebagai satu-satunya perantara. Dan terdapat tujuh ayat dalam al Qur’an yang menyatakan bahwa Rasulallah, orang-orang sholeh dan malaikat dapat menjadi perantara kita atas izin Allah.

Masih terdapat banyak ayat al-Qur’an dan Hadits di mana mengatakan bahwa pertolongan, manfaat dan sebagainya bisa didapat (secara kiasan) dari selain Allah swt. Dan orang tidak diperkenankan untuk mengartikannya secara tekstual, yang jika dilakukan akan menimbulkan kontradiksi.

Disamping ayat-ayat Ilahi diatas ini juga ada ayat ilahi yang menerangkan disamping Allah swt. pemberi karunia bahwa Rasulallah saw. juga diberi izin untuk memberi Karunia:

Firman Allah swt. dalam ayat Al-Hadid (57):29 : ‘(Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah ditangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar’.

Pada ayat Al-Hadid 29 ini golongan Salafi berusaha membuktikan dengan cara yang sama bahwa orang Kafir dan Ahli Kitab telah Syirik karena percaya hal-hal seperti ini. Oleh karenanya – menurut mereka– orang Ahlus-Sunnah telah jatuh kedalam kemusyrikan karenanya. Sayangnya mereka menolak sama sekali dengan ayat-ayat al-Qur’an yang lain diantaranya:

Surat At Taubah (9) : 59: “Jika mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)”. Apakah kita telah syirik dengan mengatakan bahwa Rasulallah saw.. dapat memberikan karunia bersama dengan Allah swt.?

Surat At-Taubah (9):74 : “Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih didunia dan diakhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi”.

Ayat-ayat seperti ini bertentangan langsung dengan paham golongan Wahabi/Salafi tentang Syirik, maka mereka berusaha menolak dan mengenyampingkannya. Mereka menolak menyebutkan ayat-ayat yang serupa itu karena takut orang-orang akan menjadi syirik!

Beberapa contoh lagi ayat-ayat didalam Al-Qur’an:

– Allah menggunakan kata Karim untuk mensifati diri-Nya. Dalam surat An-Naml :40; “Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

– Allah swt. berfirman tentang Rasul-Nya dalam surat Al-Haaqqah (69):40; ‘Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia’. Sesungguhnya kata Karim (Yang Mulia), ketika disifatkan kepada Allah itu maka itu merupakan arti literal atau arti sebenarnya. Dan ketika disifatkan kepada Rasulallah arti disana mengandung arti kiasan. Apakah kita beranggapan Allah telah syirik –na’udzubillah– karena Allah telah memberikan sifat yang sama kepada selain-Nya.?

– Allah swt. menerangkan bahwa Rasulallah saw. juga bersifat Rahiim/ Penyayang terhadap sesama mukminin, sebagaimana firman-Nya dalam surat At-Taubah:128: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”.

Kata-kata Rahiim adalah sifat Allah swt. yang literal atau sebenarnya, dan ketika disifatkan pada Rasul-Nya mengandung arti majazi/kiasan. Apakah kita telah syirik dengan mengatakan bahwa Rasulallah saw.. Rahiim/ Penyayang? Sudah tentu tidak! Buktinya masih banyak dalam ayat Al-Qur’an, yang tidak tercantum semua disini, bahwa Allah swt. memberikan anugerah pada para Rasul-Nya dengan mensifati mereka dengan sifat-Nya diantaranya: ‘Qawi/kuat adalah sifat Allah, dan Al-Qur’an juga mengatakan bahwa Rasulallah saw. mempunyai sifat Qawi. ’Alim adalah sifat Allah swt., yang mana Nabi Ismail as juga dikenal dengan sifat Alimnya. Haliim adalah sifat Allah swt., Nabi Ibrahim dan Ismail a.s. juga dikenal dengan sifat Halimnya. Syakur adalah sifat Allah swt., Nabi Nuh as dikenal dengan sifat Syakurnya’.

Kelompok Salafi/Wahabi tidak siap untuk menerima penggunaan ungkapan secara kiasan, maka bagaimana mereka akan menjawab mengapa Nabi Yusuf a.s menggunakan kata Tuanku (Robbi) –padahal kata Robbi sebutan untuk Allah swt.–kepada penguasa Mesir yang tercantum dalam surat Yusuf (12) : 23; ’Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah kesini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku (Robbi) telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang lalim tiada akan beruntung’. (QS.Yusuf : 23).

Kata-kata Tuanku (Robbi) –dalam surat Yusuf ini– sebagai ungkapan secara majazi atau kiasan dalam al-Qur’an, karena jelas kata Robbi yang diucapkan oleh Nabi Yusuf as. ditujukan kepada penguasa Mesir. Untuk lebih jelas kita bisa baca ayat sebelumnya (QS Yusuf : 21) yang berkaitan dengan ayat 23 diatas, dan semua Mufasirin (ahli tafsir) mempunyai penafsiran yang sama tentang ayat ini. Ayat ini secara tidak langsung bertentangan dengan keyakinan golongan wahabi mengenai Tauhid dan literalisme.

Maulana Maududi seorang ulama dari Pakistan dalam buku tafsirnya yang terkenal Tafhimul Quran berusaha untuk merubah arti ayat tersebut supaya sesuai dengan keyakinannya dan keyakinan teman-temannya golongan Salafi. Sebagaimana yang dia tulis dalam bahasa Inggris:

“ Normally the “Mufassireen” (have committed a mistake and) taken from it that Yusuf (as) used the word of “rabi” (lord) for his Egyptian Master that how could he fornicate with his wife, as this would contravene his loyalty. But it is not suitable for the Prophets to commit a sin for the sake of others, instead of for the sake of Allah. And in the Qur’an too, there is no example that any of Rasool ever used the word of “lord” for anyone except Allah”.

Yang terjemahan bebasnya: “Pada umumnya para ahli tafsir (telah membuat kesalahan dan) yang karenanya (beranggapan) bahwa Yusuf (as) menggunakan kata ‘robbi’ sebagai sebutan pada penguasa Mesir saat itu, bagaimana mungkin beliau as. berhubungan intim (selingkuh) dengan isteri sang penguasa yang tentunya hal ini bertentangan dengan loyalitasnya. Tetapi tidaklah mungkin bagi para Rasul melakukan dosa demi orang lain daripada demi Allah. Dan juga tidak ada contoh didalam al-Qur’an seorang Rasul yang menyebut selain Allah dengan sebutan ‘robbi’ “.

Pernyataan beliau ini tidak konsekwen karena Al-Qur’an telah jelas dalam masalah ini dan hampir tidak satupun ahli tafsir mulai abad pertama hijriah hingga abad ini yang memahami ayat diatas seperti Maulana Maududi menyarankannya. Begitu juga dalam masalah tawassul Maulana Maududi ini lebih extreem daripada golongan Salafi , Saudi Arabia . Beliau merubah arti firman Allah swt. –Surat Thaahaa berikut ini– karena bertentangan dengan keyakinannya. ‘Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku’. (QS Thaahaa (20) : 96)

Pemerintah Saudi Arabia menerbitkan Al-Qur’an dalam bahasa Urdu yang menerima/mengakui tentang barakah ini walaupun hal itu berlawanan dengan keyakinan mereka. Tapi Maulana Maududi berusaha dengan keras merubah arti ayat dan menolak untuk menerima tentang barakah dalam ayat ini. Hampir semua hadits Rasulallah saw. menginformasikan bahwa yang dimaksud dengan Rasul dalam ayat diatas adalah malaikat Jibril as. Semua ahli tafsir dari abad pertama tahun Hijriah hingga sekarang menerima yang adanya barokah dalam jejak Jibril as, tetapi Maulana Maududi menolak akan adanya barokah dalam jejak Jibril as. itu karena bertentangan dengan keyakinannya!

Golongan Wahabi/Salafi ini juga melontarkan kata-kata Syirik kepada para ulama –para penyair atau pengarang kitab-kitab: Diba’, Barzanji, Burdah dan lain-lain– yang didalam bait-bait syairnya antara lain terkandung sifat-sifat Allah swt. yang ditujukan pada Rasulallah saw.. Padahal diantara sifat-sifat Allah swt (Pengampun, Penolong, Pengabul hajat dan….) yang ditujukan pada Rasulallah saw. tersebut adalah sebagai kiasan, sebagaimana firman Allah swt. yang menyebutkan juga sifat yang dimiliki-Nya pada para Malaikat, Nabi-Nya. Semuanya itu mengandung arti kiasan, sedangkan penyair dan pembaca serta pendengar syair itu tahu dan tidak lengah sebab utama yang memberi pelindungan dan penolongan dan sebagainya adalah Allah swt., sedangkan Malaikat, Rasulallah saw. dan hamba-Nya yang sholeh termasuk didalamnya atas izin-Nya. Mereka selalu berusaha menafsirkan ayat Al-Qur’an dan Sunnah menurut keyakinannya walaupun tafsirannya itu bertentangan dengan para ahli tafsir pakar diberbagai madzhab.

Setelah membaca keterangan-keterangan ini, insya Allah jelas bagi para pembaca bahwa Al-Qur’an dan Sunnah mempunyai arti harfiah atau literal (apa adanya tekst atau arti sebenarnya) dan arti majazi atau kiasan. Sifat-sifat yang ada pada Allah swt. juga telah digunakan oleh Allah buat para nabi-Nya. Tapi ini tidak berarti bahwa para Nabi as telah menjadi pemilik sifat-sifat yang ada pada Allah swt.. Mereka bukanlah pemilik, tapi hanya sekedar diberi sebagian sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat pada Allah swt. ini adalah merupakan arti literal atau sebenarnya sedangkan yang disifatkan pada para Rasul-Nya mengandung arti kiasan. Begitupun juga halnya dengan syair-syair yang ditulis atau diucapkan oleh para sahabat dan ulama-ulama pakar lainnya yang ditujukan kepada Rasul saw. atau pada waliyullah, orang-orang sholihin dengan menyebut kata-kata sebagai sifat Allah swt. (Penolong, Pelindung, Pengampun dosa dan sebagainya).

Dengan adanya penjelasan tersebut mengenai keyakinan atau akidah golongan Salafi, maka kita bisa ambil kesimpulan bahwa Rasulallah saw. dan para sahabat bukan dari golongan orang Salafi/Wahabi, ini disebabkan karena:

– Para sahabat sering menjadikan Rasulallah saw. dan hamba yang sholeh sebagai perantara antara Allah dan mereka, seperti halnya yang telah diterangkan diatas.

– Para sahabat sering memerlukan Nabi saw. untuk memohonkan perlindungan dan pengampunan dari Allah swt., walaupun Allah sendiri sanggup mendengar setiap ucapan dan panggilan para sahabat tersebut dan Dia juga lebih dekat di banding urat lehernya (para hamba-Nya).

– Rasulallah saw. tidak menolak permohonan para sahabat dan tidak bersabda kepada sahabat: ‘Pergilah dan mintalah pada Allah swt. secara langsung’!

Dengan adanya ayat-ayat ilahi yang telah diuraikan tadi menunjukkan ke biasaan para sahabat meminta agar Rasulallah saw. berdo’a untuk mereka dan memintakan ampun pada Allah swt.. Bagaimana golongan Salafi (baca: Wahabi) ini sering mengatakan akan mengajarkan ajaran Islam yang paling murni dan pengikut para Salaf Sholeh, bila paham mereka ini bertentangan dengan Rasulallah saw. dan para sahabatnya (tokoh dari para Salaf Saleh)?

Setelah membaca keterangan singkat ini kita sekarang bisa sedikit mengetahui perbedaan antara paham kelompok Salafi/Wahabi dengan paham kelompok sunnah wal jama’ah tentang cara memohon kepada Allah melalui Rasul-Nya atau melalui orang yang sholeh. Kita juga percaya perantaraan (tawassul) kepada Rasulallah saw. dan orang-orang yang beriman ini termasuk permohonan kepada Allah bukan permohonan pada hamba-Nya, dan ini merupakan cara yang baik untuk sampai kepada Allah swt. kesempatan untuk dikabulkannya do’a kita malah lebih besar . Dan faktanya telah dibuktikan oleh Al-Qur’an dan Hadits.(keterangan lebih mendetail baca bab Tawassul/Tabarruk dibuku ini). Contoh ini sama seperti kita berdo’a dirumah. Tapi jika do’a dilakukan di tempat-tempat sekitar Ka’bah, di masjid Nabi saw. sekitar makam Rasulallah saw. maka barokah dari tempat-tempat mulia tersebut juga menyertainya dan kemungkinan untuk dikabulkannya do’a kita lebih besar. Golongan Salafi/Wahabi ini ingin menghapus kebiasaan-kebiasaan Islam (seperti tawassul/tabarruk dll.) yang mereka katagorikan sebagai Syirik, maka tentu saja hal ini tidak bisa diterima oleh pakar Islam selain kalangan orang Wahabi .

Salafi Wahhabi, Benalu bagi Ummat Islam Indonesia


          Salafi Wahabi mungkin perlu kita tanya: “Bisakah Salafi Wahabi masuk dan berkembang di bumi Nusantara seandainya sekarang ini masyarakatnya masih memeluk agama Hindu Budha?” Pertanyaan seperti ini sungguh tidak mengada-ada, sebab track record dakwah Salafi Wahabi sejak dulu hingga kini selalu menjadi benalu bagi jama’ah kaum muslimin di mana saja di seluruh dunia.
         Kita tidak pernah dengar keberhasilan dakwah Salafi Wahabi di tengah-tengah kaum non Islam, lalu kaum non Islam berbondong-bondong memeluk agama Islam ala Salafy Wahabi. Pernahkan ada di suatu negeri atau wilayah keberhasilan Salafi wahabi dalam dakwah mengajak masyarakat beragama non Islam menjadi pemeluk Islam?
          Justru yang sering kita dengar adalah dakwah Salafi Wahabi selalu berseru lantang memusyrik-musyrikkan orang-orang yang sudah jelas-jelas beragama Islam. Masyarakat beragama Islam yang sedang berziarah kubur mengikuti Sunnah Nabi Saw disebut-sebut oleh Salafi Wahabi sebagai Penyembah Kuburan, na’udzu billah min dzaalik! Salafi Wahabi mengaku sebagai satu-satunya pengikut Sunnah Nabi tapi Sinis dan benci dengan Ziarah Kubur, padahal Ziarah Kubur adalah Sunnah Nabi Saw.
         Salafi Wahabi tidak punya methode berdakwah di tengah Ummat non Islam, jadi kesimpulannya mereka tidak akan sanggup berdakwah di tengah masyarakat non Islam. Missi dan visi Salafi Wahabi berdakwah bukan mengajak orang-orang non Islam masuk Islam, tetapi missinya adalah membuat onar dengan menebar isu-isu bid’ah, isu-isu kekafiran dan isu-isu kemusyrikan di tengah Ummat Islam sendiri. Nah, kira-kira siapa gerangan dalang di balik layar dakwah Salafi Wahabi?

            Demikianlah sekelumit tentang Salafi Wahabi sebagai pengantar untuk mengikuti uraian artikel yang kritis, dinamis dan retoris tapi logis berikut ini ….
Bagaimana jadinya jika wali sanga dari kalangan salafi wahhabi?
Oleh: Ibnu Abdillah Al-Katibiy
             Bagaimana jika seandainya bangsa Indonesia di awal masuknya Islam, para da’inya bukan dari kalangan wali sanga, melainkan dari kalangan salafi wahhabi? Maka niscaya sedikit sekali orang yang masuk Islam. Atau Islam akan dikenal ekstrem, radikal atau mungkin Islam tak akan dikenal hingga saat ini oleh bangsa Indonesia. Kenapa?
            Karena sudah pasti salafi wahhabi tidak akan mentolerir budaya apa saja yang ada dan berkembang saat itu! Mereka tidak akan bisa menghargai budaya bangsa bahkan akan memaksa membumi-hanguskannya.
           Sangat berbeda dengan manhaj suci wali sanga dalam berdakwah di Indonesia ini. Mereka lebih mengedepankan nilai-nilai santun dan penuh etika menghadapi berbagai macam karakter dan budaya yang ada bagi bangsa Indonesia.
            Sebagaimana kearifan dan kecerdikan wali sanga yang dalam dakwahnya bisa memposisikan budaya sebagai jembatan dakwah, sehingga mampu membumikan ajaran-ajarannya di hamparan bumi Nusantara sampai dewasa ini.


Renungkanlah hadits-hadits berikut ini :
- Nabi Saw bersabda : 

انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاك

“Sesunngguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia”. (HR. Baihaqi)
Dalam hadits tersebut Nabi Saw menegaskan untuk menyempurnakan akhlak karimah yang juga berarti budaya, tradisi dan adat masyarakat. Bukan malah melenyapkannya!


- Nabi Saw juga bersabda :

اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة وخالق الناس بخلق حسن

“Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada, susullah kejelakan dengan kebajikan yang biasa meleburnya dan berperilakulah kepada orang lain dengan perilaku yang baik.” (HR. Turmudzi dan Hakim)
Apakah yang dimaksud dengan perilaku yang baik? Sayyidina Ali bin Abi Tholib saat ditanya tentang maksud perilaku yang baik dalam hadits tersebut, belai menjawab :

هو موافقة الناس في كل شيء ماعداامعاصي

“(Makasud perilaku yang baik tersebut) adalah beradaptasi dengan masyarakat dalam setiap hal selama bukan maksyia “.

Kemudian populer menjadi peribahasa :

لولا الوئام لهلك الانام

“Andaikan tidak ada adaptasi (dalam pergaulan) niscaya manusia akan sirna!”.
Maka jelas, bahwa ajaran Islam mesti disampaikan dengan santun dan menghargai budaya. Nilai-nilai toleransi, adaptasi dan pembauran pada budaya dengan sendirinya akan membuat masyarakat mencintainya. Namun perlu diingat pesan Sayyidina Ali: ”Maa ‘adal ma’ashi.” yaitu budaya atau tradisi yang bukan maksyiat. Artinya budaya atau tradisi yang bisa ditoleransi dan dimaklumi adalah yang tidak bertentangan dengan fitrah manusia sendiri dan tidak bersebrangan dengan nilai-nilai agama.

            Inilah manhaj dakwah nubuwwah secara estafet telah diterapkan dan diteruskan dari zaman ke zaman oleh para ulama kita hingga zaman wali sanga dan akan terus dialanjut oleh para ulama Ahlus sunnah waljama’ah hingga akhir zaman. Dakwah kasih sayang, santun, penuh rahmat yang menjadi satu-satunya tujuan kerasulan nabi Muhammad Saw. Sebagaimana telah diisyaratkan oleh Allah Swt dalam Al-Quran :

وما ارسلناك الا رحمةللعالمين

” Dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam “. (QS. Al-Anbiya : 107)

             Inilah manhaj nubuwwah, manhaj salaf Ahlus sunnah waljama’ah yang telah diterapkan oleh mayoritas ulama dan umat muslim sedunia. Dan inilah janji Nabi Saw :}

لايجمع امتي على ضلالة ابدا ويدالله على الجماعة

“Allah tidak akan mengumpulkan umatku dalam kesesatan selamanya. Sememntara itu kekuasaan Allah Swt berada pada Jama’ah”.

             Maka kita tanyakan kepada salafi wahhabi, manhaj siapakah yang kalian ikuti?
Allah telah memperingatkan dalam Al-Quran :

ومن يشاقق الرسول من بعد ماتبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ماتولى ونصله جهنم وسائت مصيرا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam. Dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali “. (QS. An-Nisa : 115)

Senin, 02 Juli 2012

Bulan Sya'ban

Oleh: H. Ahsan Ghozali
Sya’ban adalah salah satu bulan yang mulia. Bulan ini adalah pintu menuju bulan Ramadlan. Siapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan ini, ia akan akan menuai kesuksesan di bulan Ramadlan.
Dinamakan Sya’ban, karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). Menurut pendapat lain, Sya’ban berasal dari kata Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan. Dalam bulan ini terdapat banyak kejadian dan peristiwa yang patut memperoleh perhatian dari kalangan kaum muslimin.

Pindah Qiblat
Pada bulan Sya’ban, Qiblat berpindah dari Baitul Maqdis, Palistina ke Ka’bah, Mekah al Mukarromah. Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam menanti-nanti datangnya peristiwa ini dengan harapan yang sangat tinggi. Setiap hari Beliau tidak lupa menengadahkan wajahnya ke langit, menanti datangnya wahyu dari Rabbnya. Sampai akhirnya Allah Subhanahu Wata’ala mengabulkan penantiannya. Wahyu Allah Subhanahu Wata’ala turun. “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah; 144)

Diangkatnya Amal Manusia
Salah satu keistimewaan bulan Sya’ban adalah diangkatnya amal-amal manusia pada bulan ini ke langit. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya menyukai amal saya diangkat, sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i).

Keutamaan Puasa di Bulan Sya’ban
Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat, “Adakah puasa yang paling utama setelah Ramadlan?” Rasulullah Shollallahu alai wasallam menjawab, “Puasa bulan Sya’ban karena berkat keagungan bulan Ramadhan.”Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).
Sepintas dari teks Hadits di atas, puasa bulan Sya’ban lebih utama dari pada puasa bulan Rajab dan bulan-bulan mulia (asyhurul hurum) lainnya. Padahal Abu Hurairah telah menceritakan sabda dari Rasulullah Shollallu alaihi wasallam, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan-bulan mulia (asyhurul hurum).” Menurut Imam Nawawi, hal ini terjadi karena keutamaan puasa pada bulan-bulan mulia (asyhurul hurum) itu baru diketahui oleh Rasulullah di akhir hayatnya sebelum sempat beliau menjalaninya, atau pada saat itu beliau dalam keadaan udzur (tidak bisa melaksanakannya) karena bepergian atau sakit.
Sesungguhnya Rasulullah Shollallu alaihi wasallam mengkhususkan bulan Sya’ban dengan puasa itu adalah untuk mengagungkan bulan Ramadhan. Menjalankan puasa bulan Sya’ban itu tak ubahnya seperti menjalankan sholat sunat rawatib sebelum sholat maktubah. Jadi dengan demikian, puasa Sya’ban adalah sebagai media berlatih sebelum menjalankan puasa Ramadhan.
Adapun berpuasa hanya pada separuh kedua bulan Sya’ban itu tidak diperkenankan, kecuali:
1. Menyambungkan puasa separuh kedua bulan Sya’ban dengan separuh pertama.
2. Sudah menjadi kebiasaan.
3. Puasa qodlo.
4. Menjalankan nadzar.
5. Tidak melemahkan semangat puasa bulan Ramadhan.

Turun Ayat Sholawat Nabi
Salah satu keutamaan bulan Sya’ban adalah diturunkannya ayat tentang anjuran membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Shollallu alaihi wasallam pada bulan ini, yaitu ayat: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab;56)

Sya’ban, Bulan Al Quran
Bulan Sya’ban dinamakan juga bulan Al Quran, sebagaimana disebutkan dalam beberapa atsar. Memang membaca Al Quran selalu dianjurkan di setiap saat dan di mana pun tempatnya, namun ada saat-saat tertentu pembacaan Al Quran itu lebih dianjurkan seperti di bulan Ramadhan dan Sya’ban, atau di tempat-tempat khusus seperti Mekah, Roudloh dan lain sebagainya.
Syeh Ibn Rajab al Hambali meriwayatkan dari Anas, “Kaum muslimin ketika memasuki bulan Sya’ban, mereka menekuni pembacaan ayat-ayat Al Quran dan mengeluarkan zakat untuk membantu orang-orang yang lemah dan miskin agar mereka bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Malam Nishfu Sya’ban
Pada bulan Sya’ban terdapat malam yang mulia dan penuh berkah yaitu malam Nishfu Sya’ban. Di malam ini Allah Subhanahu wata’ala mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang minta belas kasihan, mengabulkan doa orang-orang yang berdoa, menghilangkan kesusahan orang-orang yang susah, memerdekakan orang-orang dari api neraka, dan mencatat bagian rizki dan amal manusia.
Banyak Hadits yang menerangkan keistimewaan malam Nishfu Sya’ban ini, sekalipun di antaranya ada yang dlo’if (lemah), namun Al Hafidh Ibn Hibban telah menyatakan kesahihan sebagian Hadits-Hadits tersebut, di antaranya adalah: “Nabi Muhammad Shollallhu alaihi wasallam bersabda, “Allah melihat kepada semua makhluknya pada malam Nishfu Sya’ban dan Dia mengampuni mereka semua kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Thabarani dan Ibnu Hibban).
Para ulama menamai malam Nishfu Sya’ban dengan beragam nama. Banyaknya nama-nama ini mengindikasikan kemuliaan malam tersebut.
1. Lailatul Mubarokah (malam yang penuh berkah).
2. Lailatul Qismah (malam pembagian rizki).
3. Lailatut Takfir (malam peleburan dosa).
4. Lailatul Ijabah (malam dikabulkannya doa)
5. Lailatul Hayah walailatu ‘Idil Malaikah (malam hari rayanya malaikat).
6. Lalilatus Syafa’ah (malam syafa’at)
7. Lailatul Baro’ah (malam pembebasan). Dan masih banyak nama-nama yang lain.

Pro dan Kontra Seputar Nishfu Sya’ban
Al Hafidh Ibn Rojab al Hambali dalam kitab al Lathoif mengatakan, “Kebanyakan ulama Hadits menilai bahwa Hadits-Hadits yang berbicara tentang malam Nishfu Sya’ban masuk kategori Hadits dlo’if (lemah), namun Ibn Hibban menilai sebagaian Hadits itu shohih, dan beliau memasukkannya dalam kitab shohihnya.” Ibnu Hajar al Haitami dalam kitab Addurrul Mandlud mengatakan, “Para ulama Hadits, ulama Fiqh dan ulama-ulama lainnya, sebagaimana juga dikatakan oleh Imam Nawawi, bersepakat terhadap diperbolehkannya menggunakan Hadits dlo’if untuk keutamaan amal (fadlo’ilul amal), bukan untuk menentukan hukum, selama Hadits-Hadits itu tidak terlalu dlo’if (sangat lemah).”Jadi, meski Hadits-Hadits yang menerangkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebut dlo’if (lemah), tapi tetap boleh kita jadikan dasar untuk menghidupkan amalam di malam Nishfu Sya’ban.

Kebanyakan ulama yang tidak sepakat tentang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban itu karena mereka menganggap serangkaian ibadah pada malam tersebut itu adalah bid’ah, tidak ada tuntunan dari Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam. Sedangkan pengertian bid’ah secara umum menurut syara’ adalah sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah. Jika demikian secara umum bid’ah itu adalah sesuatu yang tercela (bid’ah sayyi’ah madzmumah). Namun ungkapan bid’ah itu terkadang diartikan untuk menunjuk sesuatu yang baru dan terjadi setelah Rasulullah wafat yang terkandung pada persoalan yang umum yang secara syar’i dikategorikan baik dan terpuji (hasanah mamduhah).

Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumiddin Bab Etika Makan mengatakan, “Tidak semua hal yang baru datang setelah Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam itu dilarang. Tetapi yang dilarang adalah memperbaharui sesuatu setelah Nabi (bid’ah) yang bertentangan dengan sunnah.” Bahkan menurut beliau, memperbaharui sesuatu setelah Rasulullah (bid’ah) itu terkadang wajib dalam kondisi tertentu yang memang telah berubah latar belakangnya.”
Imam Al Hafidh Ibn Hajjar berkata dalam Fathul Barri, “Sesungguhnya bid’ah itu jika dianggap baik menurut syara’ maka ia adalah bid’ah terpuji (mustahsanah), namun bila oleh syara’ dikategorikan tercela maka ia adalah bid’ah yang tercela (mustaqbahah). Bahkan menurut beliau dan juga menurut Imam Qarafi dan Imam Izzuddin ibn Abdis Salam bahwa bid’ah itu bisa bercabang menjadi lima hukum.

Syeh Ibnu Taimiyah berkata, “Beberapa Hadits dan atsar telah diriwayatkan tentang keutamaan malam Nisyfu Sya’ban, bahwa sekelompok ulama salaf telah melakukan sholat pada malam tersebut. Jadi jika ada seseorang yang melakukan sholat pada malam itu dengan sendirian, maka mereka berarti mengikuti apa yang dilakukan oleh ulama-ulama salaf dulu, dan tentunya hal ini ada hujjah dan dasarnya. Adapun yang melakukan sholat pada malam tersebut secara jamaah itu berdasar pada kaidah ammah yaitu berkumpul untuk melakukan ketaatan dan ibadah.
Walhasil, sesungguhnya menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan serangkaian ibadah itu hukumnya sunnah (mustahab) dengan berpedoman pada Hadits-Hadits di atas. Adapun ragam ibadah pada malam itu
dapat berupa sholat yang tidak ditentukan jumlah rakaatnya secara terperinci, membaca Al Quran, dzikir, berdo’a, membaca tasbih, membaca sholawat Nabi (secara sendirian atau berjamaah), membaca atau mendengarkan Hadits, dan lain-lain.

Tuntunan Nabi di Malam Nisyfi Sya’ban
Rasulullah telah memerintahkan untuk memperhatikan malam Nisyfi Sya’ban, dan bobot berkahnya beramal sholeh pada malam itu diceritakan oleh Sayyidina Ali Rodliallahu anhu, Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika tiba malam Nisyfi Sya’ban, maka bersholatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menurunkan rahmatnya pada malam itu ke langit dunia, yaitu mulai dari terbenamnya matahari. Lalu Dia berfirman, ‘Adakah orang yang meminta ampun, maka akan Aku ampuni? Adakah orang meminta rizki, maka akan Aku beri rizki? Adakah orang yang tertimpa musibah, maka akan Aku selamatkan? Adakah begini atau begitu? Sampai terbitlah fajar.’” (HR. Ibnu Majah)

Malam Nishfu Sya’ban atau bahkan seluruh bulan Sya’ban sekalipun adalah saat yang tepat bagi seorang muslim untuk sesegera mungkin melakukan kebaikan. Malam itu adalah saat yang utama dan penuh berkah, maka selayaknya seorang muslim memperbanyak aneka ragam amal kebaikan. Doa adalah pembuka kelapangan dan kunci keberhasilan, maka sungguh tepat bila malam itu umat Islam menyibukkan dirinya dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala. Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam mengatakan, “Doa adalah senjatanya seorang mukmin, tiyangnya agama dan cahayanya langit dan bumi.” (HR. Hakim). Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam juga mengatakan, “Seorang muslim yang berdoa -selama tidak berupa sesuatu yang berdosa dan memutus famili-, niscaya Allah Subhanahu wata’ala menganugrahkan salah satu dari ketiga hal, pertama, Allah akan mengabulkan doanya di dunia. Kedua, Allah baru akan mengabulkan doanya di akhirat kelak. Ketiga, Allah akan menghindarkannya dari kejelekan lain yang serupa dengan isi doanya.” (HR. Ahmad dan Barraz).
Tidak ada tuntunan langsung dari Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam tentang doa yang khusus dibaca pada malam Nishfu Sya’ban. Begitu pula tidak ada petunjuk tentang jumlah bilangan sholat pada malam itu. Siapa yang membaca Al Quran, berdoa, bersedekah dan beribadah yang lain sesuai dengan kemampuannya, maka dia termasuk orang yang telah menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dan ia akan mendapatkan pahala sebagai balasannya.
Adapun kebiasaan yang berlaku di masyarakat, yaitu membaca Surah Yasin tiga kali, dengan berbagai tujuan, yang pertama dengan tujuan memperoleh umur panjang dan diberi pertolongan dapat selalu taat kepada Allah. Kedua, bertujuan mendapat perlindungan dari mara bahaya dan memperoleh keluasaan rikzi. Dan ketiga, memperoleh khusnul khatimah (mati dalam keadaan iman), itu juga tidak ada yang melarang, meskipun ada beberapa kelompok yang memandang hal ini sebagai langkah yang salah dan batil.

Dalam hal ini yang patut mendapat perhatian kita adalah beredarnya tuntunan-tuntunan Nabi tentang sholat di malam Nishfu sya’ban yang sejatinya semua itu tidak berasal dari beliau. Tidak berdasar dan bohong belaka. Salah satunya adalah sebuah riwayat dari Sayyidina Ali, “Bahwa saya melihat Rasulullah pada malam Nishfu Sya’ban melakukan sholat empat belas rekaat, setelahnya membaca Surat Al Fatihah (14 x), Surah Al Ikhlas (14 x), Surah Al Falaq (14 x), Surah Annas (14 x), ayat Kursi (1 x), dan satu ayat terkhir Surat At Taubah (1 x). Setelahnya saya bertanya kepada Baginda Nabi tentang apa yang dikerjakannya, Beliau menjawab, “Barang siapa yang melakukan apa yang telah kamu saksikan tadi, maka dia akan mendapatkan pahala 20 kali haji mabrur, puasa 20 tahun, dan jika pada saat itu dia berpuasa, maka ia seperti berpuasa dua tahun, satu tahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Dan masih banyak lagi Hadits-Hadits palsu lainnya yang beredar di tengah-tengah kaum muslimin. (Disarikan dari “Madza fi Sya’ban”, karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, Muhadditsul Haromain).

Staf pengajar PP. Langitan Widang Tuban. Alumni Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki Makkah